Perjalanan Malam Menuju Menara Pandang Tele - "Kita berangkat jam 8 malam ya" Ini adalah pesan dari salah satu aplikasi dari smartphone ini. Ini adalah sebuah pesan berisikn tentang akan jadwal pergi ke luar kota bareng trip kali ini. Perjalanan ini dimulai agak terlambat dari jadwal yang dijanjikan itu. Sebelum berangkat kami akan menjemput satu orang lagi yang berada di Hotel. 

Perjalananpun dimulai, sepanjang perjalanan karena ini perjalanan malam tak banyak yang bisa diceritakan karena kebanyakan kami hanya tidur. Seperti biasa perjalanan kalau keliling Sumatera Utara selalu disambut oleh jalan yang berlubang. Sampai tiba kami jumpa mesjid terakhir yang mungkin ditemui oleh kami untuk melaksanakan sholat subuh.

Subuh yang Dingin


Kami tiba sebelum subuh, udara  disini sangat dingin dan rasanya sangat malas untuk keluar dari mobil. Saat pintu mobil dibuka sedikit saja udara sangat dingin mulai masuk kedalam mobil dan salah satu teman kami berkata "tutup pintunya!!".

Saat waktunya subuh telah tiba, akan tetapi tak ada warga sekitar yang datang ke mesjid, yang ada juga cuman turis seperti kami yang berhenti untuk sholat juga. Alhasil dengan tangan dan kaki yang mulai membeku Aku kumandangkan azan sekaligus Iqomah, agar si Vicky bisa jadi Imam hehe. Selesai subuh yang cukup dingin itu kami melanjutkan perjalanan ke Menara Pandang Tele.

Tiba di Menara Pandang Tele


menara Pandang tele
Menara Pandang Tele



Menara Pandang Tele ini adlaah salah satu tempat yang memiliki 4 pemandangan sekaligus, mulai dari Air Terjun, Pegunungan Bukit Barisan, Danau Toba dan juga Pemandangan Pulau Samosir. Sehingga dari sudut pandang ini orang akan menikmati begitu indahnya ciptaan Yang Maha Kuasa. Di tempat ini kalian bisa mengambil banyak foto yang cantik-cantik. Ada beberapa pondok kecil di bawahnya yang juga bisa dijadikan objek foto dengan latar belakang danau toba. dari menara pandang ini juga terasa udayang yang cukup dingin kala itu. 

"Dek bayar kalau mau naik menara" Saut ibu-ibu edikit berteriak saat kami akan menaiki. 

"Iya bu, bukan di situ ya bayarnya?" Om vicky menunjuk post biasa membayarnya.


"Sini aja belum ada yang jaga" Kata ibu itu.

"Ini bu, dingin kali ya hari ini" Sambil mengeluarkan uang untuk membayar.

" iya dingin" ibu itu merapatkan kedua ujung jakerah jaketnya.

Pada hari biasanya cuaca tidak sedingin itu. mungkin kami lagi beruntung makanya dapat cuaca yang membuat perjalanan ini lebih menyenangkan. Harga untuk naik Menara Pandang Tele ini adalah Rp. 2.000,- per orang. jadi nggak mahal mahal banget juga. Selain itu nggak ada kutipan parkir  lagi jika singgah di sini. Sampai puas-puas foto kami pun melanjutkan perjalanan ini lagi.

Sarapan yang Enak


Sebelum kami memasuki pante (Pinggiran air seperti sungai dan danau kalau di Sumatera Utara sering jug di sebut pante) kami singgah ke rumah makan untuk sarapan pagi. Entah kenapa pagi itu perut cukup terasa lapar. Padahal malamnya sepanjang perjalanan ada di sediakan beberapa makanan ringan agar tidak kelaparan, Mante banget Trip Juara ini. Makan lah kami di salah satu rumah makan padang yang ada di pullau samosir ini. Rasa makanannya sangat nikmat karena sambil laper hehe. Perjalanan Malam Menuju Menara Pandang Tele


Bersambung ke Postingan selanjutnya.

ini bagi yang males baca 
Read More

Tangkahan Destinasi Liburan Sumatera Utara Yang Memukau - Pintu Satu Universitas Sumatera Utara adalah titik kumpul kami di tanggal 31 Desember 2017. Di akhir tahun 2017 ini kami akan melakukan perjalanan menuju salah satu tempat wisata yang cukup terkenal di  Sumatera Utara. Tangkahan namanya, Sering mendengarnya namun sering sekali membatalkan pergi ke destinasi yang satu ini karena kabar jalan menuju kesana sangat jelek. 

Sewaktu sampai pada pada tempat titik kumpul udah ada abang-abang panitia yang memanggil untuk masuk ke warung bakso, sambil bersalaman abang itu mengenalkan dirinya bernama Wira. Menunggu beberapa orang yang belum sampai kami didudukkan di warung bakso. Udah ada dua orang yang datang sebelumku. 


Selama perjalanan kami disinggahi beberapa swalayan kecil dan salah satu mesjid tertua dilangkat. Menang sesuai ekspektasi ternyata seletah sampai langkat semua jalan biasa saja dan mulus, tetapi seletah akan memasuki yang namanya jalan menuju Bukit Lawang dan Tangkahan semua jalan menjadi memiliki kawahnya masing-masing. Sangking serammnya kalau duduk di belakang dalam mobil lebih bagus pakai helm deh hehehe. 
Sesampainya di Tangkahan kami melewati jembatan gantung yang sangat minim cahaya. Untuk melewatinya kami menggunakan senter kecil dari korek api yang diberikan abang-abang panitia di perjalanan. Sebelum masuk menuju pernginapan, sudah diberitahukan kalau saja penginapannya akan masuk berjalan kaki selama 15 menit dari tempat parkir kendaraan. Setelah dirasakan sepertinya nggak sampai 15 menit juga sih . Mungkin karena malam hari sehingga nggak tahu jalan masih jauh atau tidak, tahu-tahu sudah sampai saja. 

Melewati kamar tidur dan Cottage yang akan kami tinggali, kami di ajak masuk ke restorantnya terlebih dahulu untuk makan malam. Sembari menunggu makan malam kami di suguhi dengan hidangan kopi dan teh  yang disjikan hangat. Seperti biasa agak takut minum kopi karena punya asam lambung, tapi sok paten nyoba ya nyobak aja. Ternyata kopi di Linnea Cottage ini enak dan aman buatku.

Tangkahan Destinasi Sumatera Utara
Kopi Enak

Selain itu ada hiasan miniatur sepeda-sepedaan dan becak pada pinggiran tembok dari restorant ini. Seluruh isi restaurant ini sudah disusun dengan sangat apik dan nyaman, sehingga memang nyaman untuk bersantai berlama-lama di sana. Selain itu juga disuguhi dengan pemandangan pepohonan dimalam hari. Ditambahlagi dengan udara yang sejuk pepohonan, dan anehnya tidak ada nyamuk yang mengigit.

Makan malam sederhana namun nikmat pun kini terhidang di depan mata. Bergegas seluruh teman-teman mengambil kamera. Namanya juga blogger foto dulu baru makan hehehe. Makan malam yang sedderhana malam ini sangat memuaskan perut walau sedikit terlalu pedas pada bagian kuah sayurnya. 


Setelah makan malam kami kembali duduk-duku sambil bercerita panjang lebar tentang penginapan Cottage ini. Pemilik dari penginapan ini adalah orang Karo asli namun sekarang tinggal di Swedia bersama Istrinya yang memang Berwarga Negara Swedia. Cottage ini memiliki 15 Kamar yang semuanya memiliki kelambu dan kamar mandi di dalam. Kiasaran harga kamarnya antara Rp. 200.000,- sampai Rp. 600.000,- per kamar per malam. Harga kamar sendiri trgantung dari jenis kamar yang di pakai. Dalam Cottage ini ada beberapa jenis kamar, tergantunga dari kebutuhan pengunjung. Ada yang berisi single bed dengan maksimum isi kamar dua orang, ada juga yang Double bed dengan maksimum 4 orang. Jadi kamar yang diinginkan bisa disesuaikan.

Malam pun mulai larut, berhubung sebenernya aku juga males keluar malam tahun baruan karena kota Medan macetnya ampun-ampun, jadi rencana tidur malam tahun baru tetap berjalan walaupun di dekat hutan lindung. Lagian suasana tangkahan malam hari juga nggak ramai di malam tahun baru, Hanya terdengar beberapa petasan yang diledakkan saat malam tahun baru tiba.
Pagi hari tiba 2017 berlalu begitu aja. Pemandangn pagi ini disuguhi dengan hijaunya pepohonan dan nenek-nenek yang berjalan tanpa alas kaki didepan kamar. Didepan Kamar terdapat bebatuan kerikil kecil-kecil sebagai penunjuk bahwa itu adalah jalan yang bisa dilalui. Mungkin itu nenenk-nenek merasakan kalau kerikil-kerikil itu bisa juga dipakai buat terapi refleksi. Taklama kemudian aku berjalan mengelilingi Linnea Cottage ini. Suasanya yang nyaman mulai terasa tampa adanya suara kendaraan yang modar mandir, suara jangkrik dan beberapa bnatang hutan seperti monyat yang menyambut pagi ini. 

Sebelum memulai kegiatan pagi ini kami disugihi oleh sarapan pagi. Sarapan pagi ini sepiring nasi goreng lengkap dengan timun, telur dan juga kerupuknya. Yang berbeda dengan malam harinya adalah pemandangan pepohonan pagi itu lebih jelas terlihat karena sudah disiniari oleh matahari. 


Dipinggir sungai kami berkumpul lepas sarapan, seluruh peralatan eleltroneik dimasukan kedalam sebuah kantung plastik yang cukup tebal. Kemudian kantung tersebut dibawa oleh abang-abang guidenya pagi itu. Selain itu di pinggiran sungai juga sudah terdapat beberapa ibu-ibu berjualan makanan ringan dan juga buah durian. 


Destinasi pertama yang kami kunjungi adalah mata air panas yang terdapat di pinggir sungai. Seebenernya cukup unik sih tersapat sebuah mata air panas sulfur yang berada tepat di pinggiran sungai dan dilindungi oleh semacam gua. Untuk mengakses ke mata air tersebut kita harus melawati titi kayu untuk menyeberangi sungai. 


Selanjtnya kami lanjutakan perjalanan menuju pinggiran sungai Batang Serangan yang mengalir sampai Sungai Wampu. Disini kami menunggu beberapa saat untuk menunggu ban Tubbing yang sedang disusun. Btw kalau nggak tau tubbing itu menyusuri sungai pakai ban ya hehe. Selama Tubbing Aliran sungai cukup tenang, sehingga terasa angin sepoi-sepoi berhembus, kebetuan cuaca sedang tidak panas. Dipinggiran sungai terdapat pepohonan yang masih di tinggali hewan-hewan liar. Sesekali sering terlihat monyet sedang memakan buah di pinggir sungai. 


Ban Tubbing minggir ketepian sungai, kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan jalur darat dan menuju ke air terjun. Air terjun yang pertama di kelilingi oleh bebatuan yang cukup licin, permukaannya kasar tetapi saat diinjak sangat licin. Ternyata bebatuan tersebut bebatuan semen, yang mana di gunakan sebagai bahan dasar semen untuk bangunan. Saat terkena air bebatuan ini akan sangat licin dan bisa menjadi serpihan pasir.

Tangkahan Destinasi Sumatera Utara
Air Terjun Pantai Salak

Air terjun ini bernama Air Terjun Pantai Salak sedangkan air terjun selanjutnya adalah Air Terjun Sungsang. Di air terjun yang kedua ini kami dibolehkan untuk mandi-mandi dan menikmati suasana alam. Dari atas air terjun juga boleh melompat kebawah karena bagian bawah air terjun cukup dalam dan aman untuk di lompati. 


Sayangnya saat kami datang air sungai sedang surut, sehingga air terjun idak mengalir seindah biasanya. Jadi hanya muncul seperti air mancur saja di ujung air terjun yang di kelilingi anak-anak yang bermain sambil tertawa. Saat sedang indah-indahnya seharusnya Air Terjun Sungsang ini membentuk tirai air sepanjang batu.

Perjalanan dilanjutkan kembali dan kami menyeberangi Sungai Batang Serangan dengan menggunakan Ban tadi. Diseberang jalan makan siang sudah menanti, ayam sambel dan sayur sudah di siapkan dengan nasi berbungkus daun pisang. Menambah kenikmatan makan jika sambil menghadap ke tepian sungai. Di tengah sungai banyak Wisatawan lokal antri naik Speedboat. Walau sungai ini luas tapi cuku dangkal dibeberapa bagian, sampai-sampai terkadan di tengah sungai bisa sedalam dengkul kaki.

Destinasi yang terakhir adalah Penangkaran Gajah. Dari pinggir sungai tempat kami menepikan ban Tubbing tadi kami melanjutkan perjalanan dengan mobil yang gagah Milik Linnea Cottage. Karena tanggal satu keadaan jalan menuju Penangkaran Gajah cukup ramai oleh turis Lokal. Sesampainya di sana Kami Ngopi-Ngopi dulu di warug pinggir sungai. Dengan bangku kayu, lantai kayu, meja kayu, dan seluruh warung terbuat dari alam membuat suasana di pedesaaan terasa kental.

Memang udah lewat masanya kalau naik gajah kegirangan kayak bocah. Tapi tetep aja rasa penasaran naik gajah pasti ada. Selama di atas gajah kepo sama abangnya, dan mendapatkan hasil kalau gajah yang kami naiki umurnya 40 tahunan, dimandikan 2 kali dalam satu hari pagi dan petang. Kemudian kalau tracking pakai gajah biayanya bisa Rp 1 jutaan. 

"Bang gajahnya bisa lari?" Era nanya ke abang yang bawa gajah.
"Bisa!" 
Kemudian gajah yang kami naiki malah lari. Agak serem sih, tapi seru.

Selepas dari peternakan gajah, kami kembali ke Linnea Cottage dan bersiap untukpulang ke Medan. pengalaman yang seru menarik dan luar biasa. Untuk semua kegiatan yang kami lakukan tadi diatas hanya perlu mengeluarkan biaya Rp. 500.000,- sampai Rp. 600.000,- dijemput dari Medan, dan dipulangkan ke Medan juga. Untuk info lebih lanjut bisa Hubungi ke Nomor 0852-6186-5837 atas nama Bang Meidi. 










Read More
Inspirasi Gunung Semeru - Libur Hari Raya Idul Fitri 1438 H / 2017 ini dijadwalkan saya akan menghabiskan waktu liburan selama 2 minggu di kampung halaman Deli Serdang/Medan Sumatera Utara, baru 2 hari saya di kampung halaman tiba-tiba sebuah pesan Whasapp masuk ke hp saya kurang lebih bunyinya begini … eh maaf gak ada bunyi deng soalnya hp selalu silent, kira-kira isi pesannya seperti ini “Bang, kita mau ke Semeru ni kira-kira tgl 29 Juni s.d 4 Juli 2017, mau ikut gk ?” saya balas “sama siapa aja” teman saya kembali membalas pesan saya “sama temen-temen tergabung dalam Backbone adventure, rata-rata alumni Politeknik Negeri Jakarta” waduh padahal saya baru akan balik dari Medan ke Surabaya tgl 5 Juli 2017 bertepatan dengan habisnya jadwal cuti saya masak harus di percepat sih ? lalu pesan WA tersebut saya balas “kasih waktu aku beberapa hari untuk mikir yu”. Nah yang jadi bahan pertimbangan saya adalah :

1. Saya pulang kampung ke Medan rata-rata setahun sekali, masak iya saya cuma di kampung semingguan dari schedule awal dua minggu, apa kata dunia?

2. Nanti kalau orangtua ngajak jalan-jalan sekitar Sumatera Utara gimana? Masak ia saya gak bisa ikut? Kasian Bapak nyetir sendiri.

3. Kalau misalkan ikut ke Semeru harus reschedule tiket lagi dong ? haish koyak lagi nih dompet.

4. Mimpi mendaki Semeru sudah sejak beberapa tahun lalu, masak ia aku lewatin momen emas ini gitu aja, padahal mumpung ada tim buat gerak bareng.

5. Saya lupa alasan lainnya mau ngarang juga bingung mau nulis apa hehehe

Beberapa hari kemudian saya chat temen yang kemarin ajak saya ke Semeru “yu, ok aku jadi ke Semeru, minta tolong bantuin reschedule tiket ya, makasih” di jawab “ok bang”.

Lebaran Idul Fitri pertama tahun ini saya dan keluarga habiskan di rumah sambil menyambut tamu yang datang dan malamnya mengunjungi sanak saudara tradisi inimerupakan tradisi yang sangat baik di Indonesia. Ke esokan harinya saya dan keluarga mengunjungi rumah nenek di Pematang Siantar sekitar 130 an Km dari Kota Medan. Di awal saya sudah sampaikan kepada kedua orangtua kalau saya akan mempercepat waktu saya kembali ke Surabaya karena saya akan mendaki gunung Semeru dan Alhamdulillah saya bersyukur banget punya orangtua yang selalu memahami apa keinginan, mimpi dan kesenangan saya dan izin orangtuapun akhirnya saya kantongi.

Rencana keluarga berubah yang seharusnya akan menghabiskan sekitar 2 hari di Siantar berubah menjadi 1 hari saja. dari hari raya ke-3 kita putuskan untuk jalan ke beberapa destinasi wisata di Sumatera Utara, seperti Danau Toba, Tiga Ras, Tongging, Simarjarunjung, Sipiso-Piso dan mutar ke arah Kabanjahe, Berastagi lalu kembali kerumah. sebagai menutup rasa bersalah saya karena harus balik ke Surabaya lebih awal, se dari Medan-Siantar-Perapat-Tiga Ras-Simarjarunjung-Sipisopiso-Kabanjahe saya yang nyetir, semaksimal mungkin saya berlagak kuat walau Bapak selalu bilang “ngah kalau capek bilang ya supaya gantian” tapi setiap Bapak saya bilang gitu saya selalu jawab “gpp pak, masih kuat kok, masih biasa” sampai di suatu tempat tepatnya di Berastagi karena saya sangat-sangat mengantukdan demi menjaga ke selamatan dirid an keluarga barulah posisi driver digantikan Bapak.

Ke esokan harinya tepatnya sore hari saya sudah bergegas menuju Bandara Kuala Namu untuk terbang ke Surabaya. 29 Juni 2017 saya tiba di Surabaya dan langsung di jemput oleh teman di Bandara, kemudian menuju kosan untuk saya packing barang-barang yang akan dibawa pendakian Semeru. Yes packing selesai saya langsung di antar menuju Stasiun Gubeng Baru dengan tiket yang sudah saya beli online sebelumnya ketika masih di Medan. Kereta saya pun jalan menuju Malang Jawa Timur. pagi ini di Stasiun besar Malang saya bertemu dengan 30 orang yang akan menjadi bagian dari tim saya untuk menaklukkan gunung Semeru. Dari 30 orang ini, kita di bagi menjadi 3 tim, artinya masing-masing tim terdiri dari 10 orang dan kebetulan di tim saya ada 5 perempuan (perempuan ganas dan tangguh) dan 5 laki-laki. Dari 30 orang ini saya hanya kenal 2 orang. Satunya kenal karena terlibat dalam satu organisasi yaitu Forum Komunikasi Mahasiswa Politeknik se-Indonesia dan satunya lagi kenal-kenal gitu aja tapi gak pernah ngobrol, dalam hati saya “ yah lumayan lah, Alhamdulillah jadi punya banyak temen”.

Perjalanan sudah di mulai, misi penaklukan Semeru harus berhasil. Sebenernya se dari awal pimpinan rombongan selalu menyampaikan “tujuan kita bukan puncak, tapi tujuan kita adalah kembali dengan selamat” artinya jika benar-benar tidak mampu lagi, ya jangan paksakan diri kita karena keselamatan lebih penting dari apapun disinilah kita belajar mengenali batas kemampuan kita dan menghilangkan ego dalam dirikita. Pokoknya mantap kali lah.

3 angkot berwarna biru yang sudah di sewa oleh tim Backbone Adventure membawa kita ke daerah pasar tumpeng untuk selanjutnya menaiki jeep menuju titik awal pendakian Desa Ranupane.

Tiba di Ranu Pani

Naik Jeep dari kawasan Pasar Tumpeng menuju Desa Ranu Pani titik awal pendakian Semeru.




Sampai di Ranu Pane, sekitar jam 3 sore kelompok kita di panggil menuju sebuah ruangan untuk mendengarkan arahan/ breafing terkait dengan Semeru. Pembahasan terkait dengan apa yang boleh, apa yang tidak boleh, apa yang harus dilakukan, apa yang harus di jauhi, dan gambaran umum perjalanan. Setelah breafing dan berkemas ulang tepat jam 17.00 WIB diawali dengan lantunan doa dan ayat suci Al Quran tak lupa pula mengucapkan Basmallah pendakian Semeru di mulai.

Pendakian tak semudah dan secepat yang saya bayangkan, hm mungkin beberapa faktor diantaranya kita mendaki bareng perempuan kemudian perjalanan awal juga terasa berat karena persediaan masih dalam keadaan 100%. Tak jarang hanya dalam hitungan beberapa menit setelah berhenti kita harus berhenti lagi, maklum bagi kita keselamatan yang utama. Pukul 23.00 WIB akhirnya kita tiba di Ranu Kumbolo, rasanya ah bahagia banget karena kita bisa istirahat, tapi eiits sebelum istirahat jangan lupa bangun tenda dan sholat tentunya setelah tenda selesai di bangun ada yang memilih menyerut teh atau kopi terlebih dahulu tapi pilihan saya adalah tiduuur karena seperti nya saat ini tidur adalah surga, tidur musti cukup supaya perjalanan besok bisa di lalui dengan maksimal.

Btw menurut saya 3 manajemen ini paling penting ketika melakukan pendakian yaitu manajemen makan (supaya gak masuk angin, tetap prima, tetap sehat), manajemen istirahat (supaya punya tenaga dan gak nyusahin orang lain) dan manajemen buang air karena kalau kita salah dalam memilih waktu dan lokasi habis lah kita rasanya ahhhh sakit men, jadi catet baik-baik 3 manajemen itu ahaha.

Pagi ini bener-bener berat dan menyiksa, bukan hanya karena kondisi badan yang pegel nya minta ampun, tapi juga suhu dingin yang rasanya menusuk tulang dan hati eaaaa.

Ada yang sarapan, ada yang beres-beres tenda, mencuci piring, bahkan ada juga yang menyempatkan diri menuju bilik hijau di pojok belakang kawasan camp ground buat em.. ah saya kira temen-temen pembaca udah tau ngapain kalau ke semak-semak bilik hijau di ranu kumbolo, ya apalagi kalau bukan melakukan setoran kalau saya mah kalau gak bener-bener kebelet gak mau kesono karena ah sungguh menyiksa jiwa dan raga.

Beberapa aturan yang harus kita perhatikan ketika melakukan aktivitas di Ranu kumbolo seperti dilarang mandi di Danau karena sangat berbahaya apalagi suhu Danau yang tidak bisa di prediksi bahkan pernah ada kejadian seorang pangantin yang baru menikah meninggal tenggelam di Ranu Kumbolo akibat kaku kedinginan, ketika kita ingin mencucui piring atau cuci muka dan cuci-cuci lainnya cara nya adalah ambil air kemudian menjauh dari Danau sekitar 2-3 meter kemudian gali lubang kecil kemudian silahkan lakukan aktivitas cuci-cucinya dan jangan lupa di tutup kembali lubangnya supaya danau tidak tercemar dan ekosistem tetap terjaga, begitu juga jika ingin mandi dan buang air, silahkan ambil air dengan botol atau wadah lainnya kemudian pergi ke tempat yang tertutup silahkan lakukan aktivitas yang harus dilakukan, keren kan ?

Ranu Kumbolo

Sekitar jam 11 siang kami melanjutkan perjalanan menuju camping ground terakhir tepatnya di Kalimati, tapi sebelum Kalimati masih banyak tantangan lain yang harus di lewati dan tantangan yang pertama setelah dari Ranu Kumbolo adalah Tanjakan Cinta. Saya rasa tanjakan ini sudah sangat melegenda apalagi setelah film 5 cm, mitos yang paling popular di tanjakan ini adalah “kalau kita mendaki tanjakan ini sampai atas tanpa melihat ke belakang dan sambil memikirkan orang yang kita suka atau sayangi maka percayalah kita akan mendapatkannya” tapi sebagai orang ber iman sudah selayaknya kita tidak percaya dengan hal yang beginian, hati-hati syirik bro Astaghfirullah al adzim. Awalnya saya berfikir tanjakan cinta itu biasa aja gak sulit-sulit amat tapi setelah di jalani uhhh, lumayan bikin megap-megap pokoke ngos ngosan dah, jadi jangan sepele yak.

Setelah tanjakan cinta kita akan memasuki vegetasi seperti padang rumput dan terdapat seperti hutan lavender tapi sebenernya itu bukan bunga lavender, hanya menyerupai dan jika temen-temen tertarik dengan ketinggian temen-temen bisa melewati jalur kiri sebelum turun ke lavender KW jalurnya seperti bukit, sama aja kok, kalau kami sih memilih perginya lewat bunga lavender kw dan baliknya lewat samping yang seperti bukit, jadi ada pemandangan lain yang di dapat. Setelah itu kita langsung menuju Cemoro Kandang untuk beristirahat, sholat dan makan tentunya.

Sholat zuhur sudah di tunaikan, lanjut makan siang, makanan sudah kita persiapkan sebelumnya ketika di Ranu Kumbolo, nah di Cemoro Kandang ada warga Ranu Pani yang berjualan seperti berbagai macam minuman botol, gorengan dan buah semangka. Jangan kaget dengan harga makanan disini karena harganya seperti harga Bandara, padahal gak ada pajak, sewa tempat dan barang mewah seperti gorengan dan semangka Rp 3.000,-/ pcs, atau per potong, minuman Aq*a botol 600 ml Rp 10.000/ botol dll tapi setelah saya pikr-pikir hal ini sangat wajar apalagi melihat jarak dan perjuangan pedangang melewati medan yang cukup berat dengan beban yang dibawa sampai bisa berjualan di Cemoro Kandang ini, pokoknya standing aplause lah buat bapak ibu pedagang ini. Istirahat sudah, so perjalanan kita lanjutkan menuju Jambangan, jarak Cemoro Kandang ke Jembangan sekitar 3 km tapi berbeda dengan 3 km di jalan raya atau di kota, 3 km disini mah jalannya naikan turunan berat men berat. Sampai di jambangan kita sekitar jam 15.30 sore, lelah perjalanan di bayar cicil dengan pemandangan Gunung Semeru yang berdiri gagah seakan-akan menghadap dan menyapa pendaki sedari Jambangan sampai dengan Kalimati.

Menuju Cemoro kandang


Tiba di Jambangan dan kita masih tetap kece badai



Setelah 30 menitan lebih dari Jambangan, akhirnya kita sampai di Kalimati, rasanya begitu senang karena Kalimati adalah camping ground terakhir sebelum pendakian sesungguhnya menuju puncak Semerui. Sesampainya di Kalimati setelah membangun tenda, berbenah dan mempersiapkan makan malam. Dalam hal ini tentunya kita semua tidak mau ambil resiko dengan begadang, melamun, atau bahkan melakukan hal tidak berguna lainnya. Semua terlihat mempersiapkan diri buat besok, istirahat maksimal supaya besok kita bisa memaksimalkan diri mendaki puncak Semeru. Pendakian besok kita harus mulai bergerak dari Kalimati menuju puncak Semeru jam 02.00 dini hari.

Berdoa dengan khusyuk, makan yang cukup, minum air hangat, memakai pakaian yang tebal ini merupakan beberapa persiapan kita sebelum memulai pendakian puncak Semeru karena jangan sampai karena kelalaian kita membahayakan diri kita dan menyusahkan orang lain. Hilangkan ego kenali diri sendiri, lebih empati kepada teman, merupakan kunci misi pendakian Semeru ini.

Pimpinan Backbone Adventure kembali mengingatkan kami “kalau ada yang sedang sakit atau tidak prima silahkan mundur, tinggal di tenda saja dari pada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ingat, tujuan kita bukan lah puncak tapi tujuan utama kita adalah pulang dengan selamat ke rumah masing-masing”. Tidak ada satu pun ingin mengambil resiko malam ini semua mengikuti instruksi pimpinan tak terkecuali saya, saya sangat bersyukur malam ini kondisi saya benar-benar prima benar-benar 100% dan saya siap menaklukkan Semeru dengan sehat & selamat.

Diantara 30 orang Backbone Adventure ada beberapa orang yang tidak ikut melakukan pendakian karena kondisi tubuh dan menurut saya itu piliahan yang sangat cerdas, karena kita yang paling tau kondisi tubuh kita.

PERJALANAN PENDAKIAN PUNCAK TERTINGGI PULAU JAWA, DIMULAI


Langkah menuju puncak di mulai dengan melewati vegetasi hutan yang sangat curam dan gelap, masing-masing dari kita sudah mempersiapkan strategi kelompok masing-masing dan menyiapkan perbekalan secukupnya untuk pendakian puncak. Carrier, tenda dan perlengkapan lainnya harus kita tinggal di Kalimati. Stelah sekitar 1 jam akhirnya kita melewati vegetasi hutan dan sampai di Arcopodo (silahkan serch arcopodo), vegetasi selanjutnya adalah pasir dan berbatuan dan start dari sinilah 100 % kita mendaki benar benar mendaki. Karena medannya pasir pendakian kita 3:1 artinya tiga langkah kita mendaki namun hanya satu langkah kita bergerak dari tempat semula.

Gak boleh lengah, gak boleh ngantuk, gak boleh takut, karena bahaya selalu mengintai kita dimana-mana seperti blank 75, blank 25 dan blank lain-lain yang sudah mengintai jika kita lengah dan kurang waspada. Fyi blank 75 maksudnya jurang dengan kedalaman 75 m, blank 25 jurang dengan kedalaman 25 meter dan seterusnya. Perjalanan pendakian puncak Semeru benar-benar gelap hanya senter tangan atau head lamp yang membantu perjalanan kita, sekitar 300 meter pendakian pasir pertama saya dkk harus mendaki dengan sangat super hati-hati, selain luas jalur pendakian hanya sekitar 1 meter, ditambah lagi sisi kanan dan kiri jalur pendakian terdapat jurang, bila mana kita terjatuh wassalam lah semua.

Waktu sudah memasuki pukul 04.30 artinya waktu sholat Subuh sudah masuk, saya dkk bahkan tidak tahu sudah sejauh apa kita mendaki dan berapa lama lagi kita harus terus mendaki, yang pasti yang kami tahu kami sudah mendaki selama hampir 3 jam, kondisi disini benar-benar dingin, pandangan terlihat gelap, dan puncak tak kunjung terlihat. Setelah sholat subuh di tunaikan dengan segala keterbatasan, saya dkk melajutkan perjalan, tak jarang hanya selang beberapa menit saya dkk harus berhenti sejenak walau hanya untuk menarik nafas, minum seteguk air atau menikmati sekeping roti, supaya kondisi ini tetap terjaga.

Pagi ini Sang Surya mulai terlihat dari ufuk Timur menampakkan dirinya, mengeluarkan pesona dan cahayanya menandakan hari sudah mulai terang dan kami harus bergegas mencapai puncak. Sekedar informasi setiap pendaki Semeru maksimal jam 10 pagi harus sudah meninggalkan puncak karena diatas jam 10 angin akan membawa awan / asap belerang kawah Semeru yang beracun menuju puncak sehingga sangat sangat berbahaya bagi pendaki, kami bertekad maksimal jam 9 pagi sudah sampai puncak supaya kita punya spare waktu 45 menit s.d 1 jam untuk berfoto dan menikmati Mahameru (julukan untuk puncak Semeru). Hari sudah mulai terang, jalur pendakian sudah terlihat jelas namun pucak belum kunjung terlihat, saat berpaling melihat ke bawah betapa kagetnya saya, ber jam-jam sejak pukul 02.00 dini hari bergerak dari camp dengan kondisi kedinginan dan sekarang sudah pukul 07.00 WIB ternyata baru sedekat ini saya mendaki, yassalam bener-bener perjuangan.

Rasa sebel & motivasi bercampur aduk, tak tahan rasanya ingin mencapai puncak apalagi ketika melihat ada pendaki lain yang sudah mulai menuruni Mahameru, entah karena mereka menyerah di tengah jalan entah juga mungkin mereka sudah sampai di Puncak, yang pasti dalam hati saya sudah bertekad “saya sudah sampai disini, pokoknya saya harus sampai puncak, puncak dan puncak”. Awalnya saya beserta tim saya (tim 3 bergerak bersama), namun dalam perjalanan kami terpisah menjadi tim-tim kecil bahkan diantara kami ada yang sudah menyerah. Waktu terus berputar dan terasa begitu cepat, saya dan semua temen-temen merasa lelah bahkan sangat lelah tapi saya terus dan terus mempercepat langkah saya. Satu hal yang harus sangat dihindari pendaki puncak Semeru adalah semaksimal mungkin jangan menginjak bebatuan karena sangat rawan longsor dan berbahaya bagi pendaki yang di bawah, selalu waspada dan perhatian ke depan, kalau ada batu yang jatuh langsung teriak dan peringatkan ke bawah.

Saya terus bergerak, terus melangkah, terus dan terus hingga rasa lelah menjadi terasa biasa, melewati beberapa orang yang saya kenal sambil sedikit menyapa “Mas, Bang duluan ya” , “mbak duluan ya” saya harus cepat karena waktu tidak mau menunggu. Puncak Mahameru sudah perlihat tapi masih terasa jauh, sambil sesekali mata ini menatap jarum jam melakukan kalkulasi, prediksi dan estimasi waktu sampai di puncak dan sampai akhirnya puncak Mahameru tinggal berjarak 100 meter dari saya. Tarik nafas dalam-dalam, sambil menghembuskan nafas dan sedikit berteriak Hah. Saya mulai berjalan cepat di campur dengan lari-lar kecil pertanda saya sudah sangat ingin menginjakkan kaki di Puncak.

Dan akhirnya sekitar pukul 08.15 an “Welcome to puncak Mahameru 3676 MDPL puncak tertinggi Pulau Jawa”. rasa syukur, lega, plong, senang, bahagia, haru, tawa, menghiasi momen ketika saya sampai di puncak. Sujud syukur, berteriak, dan mengelilingi bagian puncak Mahameru menjadi bagian dari ritual saya yang keluar begitu saja dengan balutan rasa syukur kepada Allah SWT. Berfoto dengan patok puncak Mahameru, dengan bendera merah putih, dengan bendera tauhid, berfoto dengan teman-teman lain yang sudah sampai di puncak dan mensupport temen-temen lain yang hampir sampai puncak dari kejauhan adalah bagian lain dari aktivitas saya di Mahameru. Tak jarang sesekali terdengar semburan atau letusan kecil dari kawah Gunung Semeru menandakan Semeru sedang aktif. Dari 30 orang pasukan Backbone Adventure hanya setengah yang berhasil sampai di Puncak, dan dari 10 orang kelompok 3 (kelompok saya) hanya 4 orang yang berhasil sampai di puncak tepat waktu, orang yang terakhir sampai di puncak dari tim kita sekitar pukul 09.45 hah rasanya legah sekali hampir saja.

Setelah jam menunjukkan pukul 10.00 WIB kita berfoto bersama dan langsung turun dari puncak Semeru. Jalur turunan terasa jauh lebih mudah dan ringan karena kita tinggal meluncur dengan kaki seperti orang main ski (penulisannya bener gak ya). Namun jangan sampai kita lalai karena menurut informasi lebih banyak orang kecelakaan dan cedera ketika turunan, mereka melakukan langkah yang gegabah apakah dengan berlari lalu terguling dan menghantam batu sampai beberapa bagian tulangnya patah, atau bahkan jatuh ke jurang.

Sesampainya di Kalimati (camping ground terakhir) dan bergabung dengan semua member Backbone Adventure kami berkemas dan langsung turun ke bawah dan singgah di Ranu Kumbolo untuk bermalam satu malam lagi.

Ada cerita unik lain dari perjalaln turun (pulang) ini, di perjalanan dekat pos 1 saya dan kawan-kawan berpapasan dengan sekelompok orang yang saya merasa kenal dengan mereka walaupun saya yakin tidak perah berjumpa (lah gimana ceritanya), beberapa diantara mereka terlihat diiringi porter dan guide tapi ada 4 orang yang paling mencolok dan berbeda diantara mereka, kulitnya putih, bersih, tinggi, posturnya bagus pokonya kalau saya dan temen-temen yang baru turun dibandingin sama mereka jauh lah, pokoknya jauh hahaha.

Spontan lisan saya dkk mengucapkan “Al ?” dan al pun tersenyum, di iringi dengan Dul di belakangnya dan El paling belakang terlihat pula ada perempuan (katanya sih artis tapis saya mah kagak kenal, itu pun kenal Al, El dan Dul karena serasa mirip aja, mungkin kalau kita disatuin jadi Vic, Al, El dan Dul. Hmmm sepertinya cocok ni bisa juga ni di buat filem judulnya “saudara kembar yang terpisah” wahaha dilarang protes. Setelah kelompok saya berpapasan dengan Al, El, dan Dul, seketika hutan yang begitu hening terdengar suara histeris namun sedikit samar, dalam hati saya “mungkin mereka histeris dan kaget melihat saudara-saudara kembar saya Al, El dan Dul. Mereka mah gak tau kalau saya sudah mandi, Al, El, dan Dul mah lewat (lewat, lewat doang).

Akhirnya setelah Magrib kami sampai di titik awal pendakian, Desa terakhir sebelum mendaki Semeru yaitu Ranu Pani. Perjalan selesai dan momen ini gak akan pernah terlupakan selamanya. Makasih temen-temen Backbone Adventure, makasih temen-temen tim 3, ada Nuri (lk), Shiddiq, Fadlur, Teh Kur, Mbak Nita, Ufai, Tsabit, Nurul, dan Nusaibah, pokonya terbaiklah. Salam tulang punggung my back !  


Read More
Kali Tim Majusatulangkah.com jalan-jalan dan ngereview Perjalanan ke Lombok Dengan Biaya Minim meriah loh, langsung aja ini kisahnya.

Perjalanan Surabaya-Lombok


Dalam kesibukan rutinitas pekerjaan dan dekapan kos ukuran 3 * 3 meter  bertepatan dua minggu setelah saya di rotasi dari Pontianak ke Surabaya teringat sebuah target lama, mimpi lama untuk menjelajahi salah satu tempat terbaik di Indonesia bahkan tahun 2016 Trip Advisor menetapkan destinasi ini sebagai wisata Halal No. 1 Dunia dan Lombok adalah jawabannya.
Komitmen saya dari awal pergi melalui jalur darat dan laut kemudian kembali dengan udara hal ini di karenakan saya harus menyimpan energi untuk rutinitas pekerjaan esok.

 kursi Kreta Ekonomi Surabaya-Banyuwangi
 Penampkan kursi Kreta Ekonomi Surabaya-Banyuwangi


Memulai perjalanan dari stasiun Gubeng lama Surabaya dengan tiket ekonomi di tambah saya mengunnakan kupon dari pegipegi.com  saya hanya mengeluarkan Rp 35.000,- an untuk perjalanan sekitar 6 jam dari surabaya-Banyuwangi. Setelah perjalanan yang panjang dan pastinya melelahkan akhirnya sampailah di stasiun Banyuwangi baru.
 
Dari stasiu Banyuwangi baru saya melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Ketapang yang ternyata jaraknya sangat dekat paling berjalan kaki hanya sekitar 5 menitan pokoknya dekat banget lah tapi kalau temen-temen mau naik ojek dari stasiun ke pelabuhan juga boleh lah hanya membayar Rp 10.000,- itung-itung sedekah ke tukang ojek. Dari Pelabuhan saya langsung ke loket untuk beli tiket penyebrangan hanya sekitar Rp 6.000,- karena penyebrangan dari banyuwangi ke pelabuhan Gilimanuk Bali hanya sebentar. Dan akhirnya sampailah saya di pelabuhan Gilimanuk tapi jangan senang dulu karena perjalanan masih sangat panjang, kemudian perjalanan saya lanjutkan dengan bus dari pelabuhan Gilimanuk ke Terminal Ubung dengan bus dengan biaya Rp 40.000,- dengan durasi sekitar 3 jam an perjalanan.

Saya sampai di terminal Ubung sudah malam hari dan hampir tidak ada bus yang bisa melayani perjalanan ke pelabuhan Padangbai (pelabuhan yang melayani penyebrangan Bali-Lombok) namun seperti kata pepatah rezeki tidak akan lari kema. kebetulan saya memiliki teman yang sedang tugas di Balidan beliau bersedia mengantarkan saya dari Denpasar ke Pelabuhan Padangbai. Sekitar pukul 01.00 tengah malam saya sampai di Pelabuhan Padangbai untuk melanjutkan perjalanan dengan kapal laut sekitar 5 jam menuju pelabuhan Lembar Lombok dengan biaya sekitar Rp 45.000,-  dan akhirnya tibalah saya di pelabuhan Lembar menandakan saya telah sampai di pulau Lombok. Sepanjang keluar dari kapal wajah saya tersenyum menandakan betapa bahagia dan bersyukurnya saya bisa sampai di Lombok yang merupakan satu dari sekian banyak cita-cita saya. Alhamdulillah.  


Kejutan Yang Maha Esa


Saya belum tau akan tinggal dimana, saya belum tau bagaimana cara saya meng explore Lombok yang saya tau saya hanya punya satu teman perempuan yang sedang tugas di Lombok dan saya harus maksimalkan. Turun dari kapal menuju gedung pelabuhan Lembar dari kejauhan saya melihat seseorang sepertinya saya kenal, dengan berseragam pegawai Dinas Perhubungan dia juga melihat saya. 

Jarak kami semakin dekat dan saya pun mempercepat  langkah saya, dengan suara setengah di tahan pegawai dishub menyebut nama saya “ vicky ? “ saya juga menyebut namanya “ wahyu?” tapi kami bukan cinlok kayak di tipi-tipi kami laki-laki kami normal wahahaha dan tau apa yang terlintas pertama dalam fikiran liar saya ?  “alhamdulillah malam ini tidur aman”  setelah ngobrol sana-sini  wahyu mengeluarkan sebuah kata-kata surga “tidur di kontrakan aku aja“ bagi saya tawaran Wahyu ibarat kita berbuka puasa di hari terakhir Puasa Ramadhan plooong rasanya, tanpa basa basi dengan ikhlas (lah) saya terima tawaran Wahyu. Alhamdulillah rezeki anak sholeh wal ganteng.  

Perjalanan ke Lombok Murah
Sayadan Wahyu (baju dinas) di Pelabuhan Lembar Lombok


Perjalanan hari pertama di Lombok saya mulai dengan sarapan nasi khas Lombok kemudian ke Dusun Sasak Sade, Pantai Kute Lombok, city tour Mataram, menikmati pemandangan lombok dari bukit Astari Resto  dan diakhiri dengan menikmati sunset di Bukit marise (sebenernya banyak lagi sih tapi lupa nama-namanya). Semua perjalanan  di hari pertama ini di bantu Yuchita. (dalam hati pembaca) “perasaan dari tadi gak ada bahas nama Yuchita lah, kok mendadak nongol nama Yuchita ? eiiits (mendadak kayak di pilem-pilem alur mundur) zzzzzttttt, nah jadi di pelabuhan saya di jemput Yuchita temen satu kantor tapi beda penempatan  sebenernya sih kita selama ini sekedar kenal dan gak akrab tapi saya nya aja sok-sok kenal sok sok akrab dan pakek mintak tolong bantuin di Lombok lagi dan alhamdulillah jadi akrab beneran dan jadilah hari pertama saya diajak keliling Lombok, alhamdulillah rezeki anak sholeh.


Desa Sasak Sade
Pantai Kute Lombok
Menikmati Pantai Kute Lombok

Bukit Marise
view Lombok dari Astari Resto

Hari ke-2

Nah kebetulan hari ini 15 April 2017 si Wahyu sedang off (bukan cabut ya), dan babang Wahyu ini dengan baik hatinya mau nganterin saya jalan ke destinasi lain di sekitaran Pulau Lombok dan berangkatlah kita ke Sembalun kaki gunung Rinjani. Karena satu dan lain hal kita sih berangkatnya agak kesiangan tapi ah sudahlah kita jalan aja tapi eiiits kayaknya bener sepertinya hari ini kita kurang lucky soalnya di perjalanan kita sempat berhanti beberapa kali dikarenakan di Lombok sedang ada kejuaraan sepeda Internasional Tour The Lombok  yang jalurnya dari kota Mataram sampai ke arah Sembalun.  sepanjang jalan banyak pak Polisi dan pak Tentara di dampingi ratusan bocah SD yang menyambut para pembalap sepeda dari berbagai Negara dan tak jarang pak Polisi dengan mobil patwal nya mondar mandir sambil teriak-teriak “Bapak Ibu mohon kepinggir , mohon jalan di sterilkan karena pembalap akan melewati rute ini “ eh padahal sampai hampir 30 menit pembalapnya gak lewat-lewat, dan sampai persimpangan menuju naik ke atas sembalun  motor kita kembali di hentikan, kalau pun mau lewat nanti setelah pembalap terakhir lewat dan kita harus di belakang mereka “waduh ya gak mungkin lah ini aja udah lewat zuhur, lah jam brapa lagi mau nyamapi sembalun” dan setelah diskusi gak panjang dengan om Wahyu akhirnya kita ubah rute perjalanan kita menuju air terjun yang arahnya berlawanan dengan Sembalun.

Engingeng … setelah beberapa jam sampailah kita di air terjun Kelambu dan tetangganya air terjun kelambu (lupa namanya) gimana pemandangannya ? pokok nya mantap kali lah kurasa apalagi aernya dingin kali bah (tiba-tiba logat medan), sebenernya pengen banget mandi tapi ah gak jadi lah cuma cuci mukak sama basah-basah kaki aja trus kita balik  dan menikmati malamnya kota Mataram  dan diakhiri dengan menikmati ayam Taliwang ah… rasanya saya menikmati setiap detik hidup ini Alhamdulillah .

Air Terjun Kelambu



Hari ke-3

Ekspedisi kali ini Wahyu gak ikut alasanya ya karena dianya masuk kerja tapi untunya kita udah sewa sepeda motor buat jalan saya di hari ke-3, lagi lagi saya mau bilang alhamdulillah karena biasanya di Lombok pasaran sewa motor per hari 65-100 rebu tapi berkat bantun om Wahyu saya cuma bayar 50 rebu men… pokoknya alhamdulillah lah motor ini bisa murah karena kita sewanya di sebuah hotel yang pernah di gunakan oleh kantor dan tamunya om Wahyu buat nginap, sebenernya sih saya gak boleh sewa karena yang sewa harus tamu hotel tapi berkat lobi-lobi om Wahyu (kayaknya dia terbiasa gombal cewek lah wkwkwk bercanda bro) akhirnya boleh di sewain deh. 

Esoknya Jam 5.30 WIT  saya sendirian sudah bergegas memacu motor ke arah pantai Senggigi dengan harapan bisa melihat sunrise pagi ini tapi bukan itu tujuan utamanya karena tujuan saya adalah Gili Trawangan maklum lah kejar kapal pagi.  Dari pelabuhan Bangsal menuju Gili Trawangan dengan speedboat muatan sekitar 20-30 orang memerlukan waktu 45 menit dengan tiket seharga Rp 10.000,-/ orang  (lumayan murah lah ) trus ngapain disana ? apalagi sendiri ?

Di Gili Trawangan saya putusin untuk sewa sepeda per jam kalau tidak salah Rp 15.000,- lumayan mahal sih tapi bisalah buat keliling-keliling pulau biar gak keliatan kali jomblonya.
Jam menunjukkan baru pukul 10.00 WIT tapi saya merasa sudah puas mengelilingi Gili Trawangan bahkan sudah berjemur ala bule-bule di pantai Gili Trawangan dan saya memutuskan untuk balik ke Mataram dan melanjutkan perjalanan sendirian ke Sembalun,
Ya Sembalun destinasi gagal kemarin namun harus berhasil kali ini.
Gili Trawangan
Penyewaan sepeda di Gili Trawangan

Kapal yang mengangkut penumpang ke Gili Trawangan

Dengan kecepatan rata-rata 75 km/ jam saya pacu motor dengan semangat dan seperti kebiasaan saya yang sudah-sudah saya selalu ingin cepat cepat dan cepat dan sampailah saya di kawasan Taman Wisata Pusuk Sembalun, mulai dari kawasan ini saya gak berhenti-berhenti untuk berdecak kagum sambil bersyukur betapa besarnya Indonesia, betapa indahnya Indonesia betapa besarnya Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, tak jarang sesekali saya mengucapkan “subhanallah” dengan spontan menandakan  betapa takjubnya saya dengan ciptaanNya. 

Sebelumnya saya sudah tanya-tanya ke om google tentang destinasi wisata apa aja yang bisa saya dapet kalau mengunjungi sembalun dan sekitarnya dan pertama lokasi yang saya kunjungin adalah air terjun mangkusakti, yes motor pun saya belokkan ke kiri ke arah air terjun mangkusakti dan dari simpang jalan aspal ke lokasi parkir air terjun mangkusakti sekitar 40 menit. Perjalanan ke Air terjun mangkusakti gak berhenti disitu bro setelah melalui sekitar 40 menit ke dalam dengan jalan yang luar biasa sempit dan rusak berbalut tanjakan tibalah saya di parkiran dan dari parkiran harus berjalan kaki lagi sekitar 15 menit ke lokasi air terjun mangkusakti, bayangin aja saya berjalan sekitar 15 menit tanpa ketemu siapapun di hutan-hutan walaupun saya sempat takut dan khawatir bukan karena apa saya khawatir ketemu hewan buas seperti kucing, jangkrik dll (lah itu mah lucu).

Sampai di mangkusakti hanya ada sekitar 6 orang disana yah lumayan sepi di luar perkiraan saya dan saya kurang beruntung karena air terjun sedang tak bagus warnanya tapi alhamdulillah bisa sampai. Singkat cerita sampailah saya di parkiran motor kembali bersiap pulang tapi seperti pepatah mengatakan kalau rezeki enggak kemana, tanpa sengaja saya bertemu dengan seorang anak muda lokal yang sedang mengantarkan wisatawan dari Malalaysia ke air terjun mangkusakti sebut saja namanya Mr. L (kepanjangan dari Lupa saya benar-benar lupa), saya dan Mr. L pun terlibat sebuah diskusi ringan namun terkesan sangat penting tentang dunia pariwisata dan gunung sampai akhirnya Mr. L tanya saya “setelah ini mau kemana?” 

Saya jawab “ mau ke Bukit Pegangsingan, menikmati desa sembalun, wisata strauberry, ke Bukit selong sekaligus Desa purba di daerah sembalun” kemudian Mr. L tanya lagi “bermalam di Sembalun ? nginap dimana ?” jawab saya “ iya bang, belum tau ni mau nginap dimana niatnya sih di rumah warga sekitar bang” Mr. L kemudian mengeluarkan kata-kata mutiara yang sangat saya nantikan kurang lebih begini “nginap di rumah saya aja, mau? Kan seru bermalam di kaki rinjani nanti sekalian saya anterin ke bukit pegasingan dan wisata sekitara sembalun” tanpa basa basi apalagi nolak saya langsung jawab “ok bang siap, makasih ya bang saya terimakasih tawarannya” wahaha saya mah kali ini gak pakai segan gak pakai malu gak pakai bas basi kawatir Mr. L berubah pikiran (abang orangnya kayak gitu dek).

Sore menjelang magrib saya sudah di basecamp Mr. L sekaligus rumahnya ternyata Mr. L (usianya di bawah saya 2 thn an) tinggal terpisah dengan orangtuanya dan Mr. L sedang merintis sejenis travel agen untuk pendakian rinjani dan wisata sembalun, sore ini saya di tawarkan untu melihat sunset dari rumah pohon dan kebun tempat mangkalnya Mr. L dkk, malamnya sebelum tidur sekalian berkeliling desa kami sempatkan untuk membeli beberapa keperluan dan bahan makanan untuk pendakian Bukit pegasingan besok subuh.
Perjalanan ke Lombok Dengan Biaya Minim

Air Terjun Mangkusakti


Perjalanan ke Lombok Dengan Biaya Minim


Perjalanan ke Lombok Dengan Biaya Minim


Walau subuh ini terasa lebih berat dari subuh-subuh lainnya (disamping harus bangun jam 4 pagi) cuaca Sembalun yang begitu dingin sedikit mengendorkan semangat saya tetapi ternyata semangat saya lebih kuat dan hangat  dari rasa lelah dan dingin ini , pendakian di mulai tentunya sesuatu yang menakjubkan sudah menunggu kami diatas sana.  Sebenernya saya sudah terbiasa mendaki tapi tidak bersama expert seperti Mr. L ini dan pendakian kali ini sebenernya berdekatan dengan event Jogja Marathon dimana saya akan berpartisipasi di kategori Half marathon ( 21 KM), di karenakan moment nya pas saya sampaikan ke Mr. L “ bang kalau dakinya mau cepat-cepat silahkan aja, saya akan coba ikuti, gak usah kawatir saya juga sekalian latihan Half Marathon” eh ternyata gara-gara sombong, untuk pertama kalinya dalam hidup saya mendaki, saya se drop itu sampai mata berkunang-kunang dan hampir aja pingsan walau terseok seok dan penuh drama akhirnya kami tiba di puncak sebelum sunrise Alhamdulillah  kembali terucap syukur dari lisan saya atas segala yang sudah saya terima ata segala kebaikan Sang Pencipta.
Sunrise pagi ini adalah salah satu sunrise terbaik yang pernah saya lihat apalagi jika menoleh ke kanan kita akan di suguhkan dengan pemandangan Gunung Rinjani yang begitu indah, ah pokoknya saya bahagia saya puas, saya menikmati setiap tetes darah dalam hidup saya alhamdulillah.
Perjalanan ke Lombok Dengan Biaya Minim

Perjalanan ke Lombok Dengan Biaya Minim




Turun bukit Pegasingan perjalanan berlanjut ke Bukit selong sekaligus Desa purba atau menurut cerita Desa pertama di kawasan kaki Gunung Rinjani. 
Akhirnya perjalanan saya di Sembalun pun selesai dan bersiap untuk balik ke Kota Mataram bertemu dengan Wahyu untuk berpamitan , mengembalikan pinjaman motor dan bertemu Yuchita yang nantinya akan mengantarkan saya ke Bandara di hari tu juga.
Saya berpamitan dengan Mr. L dkk untuk kembali ke Mataram lanjut ke Surabaya sambil menyalamkan sedikit uang sebagai ucapan terimakasih. Terimakasih banyak atas jamuan, bantuan dan kebaikannya,  Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dan memberikan yang terbaik untuk saya dan kalian semua, amin.  Sekian tentang Perjalanan ke Lombok Dengan Biaya Minim silahkan baca juga artikel perjalanan menarik lainnya ya.
Perjalanan ke Lombok Dengan Biaya Minim
Puncak Dewi Anjani ( Rinjani yang begitu Indah)

Perjalanan ke Lombok Dengan Biaya Minim
Puncak Bukit Pegasingan
Menikmati sunrise di Puncak Bukit Pegasingan




Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda