Inspirasi Gunung Semeru - Libur Hari Raya Idul Fitri 1438 H / 2017 ini dijadwalkan saya akan menghabiskan waktu liburan selama 2 minggu di kampung halaman Deli Serdang/Medan Sumatera Utara, baru 2 hari saya di kampung halaman tiba-tiba sebuah pesan Whasapp masuk ke hp saya kurang lebih bunyinya begini … eh maaf gak ada bunyi deng soalnya hp selalu silent, kira-kira isi pesannya seperti ini “Bang, kita mau ke Semeru ni kira-kira tgl 29 Juni s.d 4 Juli 2017, mau ikut gk ?” saya balas “sama siapa aja” teman saya kembali membalas pesan saya “sama temen-temen tergabung dalam Backbone adventure, rata-rata alumni Politeknik Negeri Jakarta” waduh padahal saya baru akan balik dari Medan ke Surabaya tgl 5 Juli 2017 bertepatan dengan habisnya jadwal cuti saya masak harus di percepat sih ? lalu pesan WA tersebut saya balas “kasih waktu aku beberapa hari untuk mikir yu”. Nah yang jadi bahan pertimbangan saya adalah :

1. Saya pulang kampung ke Medan rata-rata setahun sekali, masak iya saya cuma di kampung semingguan dari schedule awal dua minggu, apa kata dunia?

2. Nanti kalau orangtua ngajak jalan-jalan sekitar Sumatera Utara gimana? Masak ia saya gak bisa ikut? Kasian Bapak nyetir sendiri.

3. Kalau misalkan ikut ke Semeru harus reschedule tiket lagi dong ? haish koyak lagi nih dompet.

4. Mimpi mendaki Semeru sudah sejak beberapa tahun lalu, masak ia aku lewatin momen emas ini gitu aja, padahal mumpung ada tim buat gerak bareng.

5. Saya lupa alasan lainnya mau ngarang juga bingung mau nulis apa hehehe

Beberapa hari kemudian saya chat temen yang kemarin ajak saya ke Semeru “yu, ok aku jadi ke Semeru, minta tolong bantuin reschedule tiket ya, makasih” di jawab “ok bang”.

Lebaran Idul Fitri pertama tahun ini saya dan keluarga habiskan di rumah sambil menyambut tamu yang datang dan malamnya mengunjungi sanak saudara tradisi inimerupakan tradisi yang sangat baik di Indonesia. Ke esokan harinya saya dan keluarga mengunjungi rumah nenek di Pematang Siantar sekitar 130 an Km dari Kota Medan. Di awal saya sudah sampaikan kepada kedua orangtua kalau saya akan mempercepat waktu saya kembali ke Surabaya karena saya akan mendaki gunung Semeru dan Alhamdulillah saya bersyukur banget punya orangtua yang selalu memahami apa keinginan, mimpi dan kesenangan saya dan izin orangtuapun akhirnya saya kantongi.

Rencana keluarga berubah yang seharusnya akan menghabiskan sekitar 2 hari di Siantar berubah menjadi 1 hari saja. dari hari raya ke-3 kita putuskan untuk jalan ke beberapa destinasi wisata di Sumatera Utara, seperti Danau Toba, Tiga Ras, Tongging, Simarjarunjung, Sipiso-Piso dan mutar ke arah Kabanjahe, Berastagi lalu kembali kerumah. sebagai menutup rasa bersalah saya karena harus balik ke Surabaya lebih awal, se dari Medan-Siantar-Perapat-Tiga Ras-Simarjarunjung-Sipisopiso-Kabanjahe saya yang nyetir, semaksimal mungkin saya berlagak kuat walau Bapak selalu bilang “ngah kalau capek bilang ya supaya gantian” tapi setiap Bapak saya bilang gitu saya selalu jawab “gpp pak, masih kuat kok, masih biasa” sampai di suatu tempat tepatnya di Berastagi karena saya sangat-sangat mengantukdan demi menjaga ke selamatan dirid an keluarga barulah posisi driver digantikan Bapak.

Ke esokan harinya tepatnya sore hari saya sudah bergegas menuju Bandara Kuala Namu untuk terbang ke Surabaya. 29 Juni 2017 saya tiba di Surabaya dan langsung di jemput oleh teman di Bandara, kemudian menuju kosan untuk saya packing barang-barang yang akan dibawa pendakian Semeru. Yes packing selesai saya langsung di antar menuju Stasiun Gubeng Baru dengan tiket yang sudah saya beli online sebelumnya ketika masih di Medan. Kereta saya pun jalan menuju Malang Jawa Timur. pagi ini di Stasiun besar Malang saya bertemu dengan 30 orang yang akan menjadi bagian dari tim saya untuk menaklukkan gunung Semeru. Dari 30 orang ini, kita di bagi menjadi 3 tim, artinya masing-masing tim terdiri dari 10 orang dan kebetulan di tim saya ada 5 perempuan (perempuan ganas dan tangguh) dan 5 laki-laki. Dari 30 orang ini saya hanya kenal 2 orang. Satunya kenal karena terlibat dalam satu organisasi yaitu Forum Komunikasi Mahasiswa Politeknik se-Indonesia dan satunya lagi kenal-kenal gitu aja tapi gak pernah ngobrol, dalam hati saya “ yah lumayan lah, Alhamdulillah jadi punya banyak temen”.

Perjalanan sudah di mulai, misi penaklukan Semeru harus berhasil. Sebenernya se dari awal pimpinan rombongan selalu menyampaikan “tujuan kita bukan puncak, tapi tujuan kita adalah kembali dengan selamat” artinya jika benar-benar tidak mampu lagi, ya jangan paksakan diri kita karena keselamatan lebih penting dari apapun disinilah kita belajar mengenali batas kemampuan kita dan menghilangkan ego dalam dirikita. Pokoknya mantap kali lah.

3 angkot berwarna biru yang sudah di sewa oleh tim Backbone Adventure membawa kita ke daerah pasar tumpeng untuk selanjutnya menaiki jeep menuju titik awal pendakian Desa Ranupane.

Tiba di Ranu Pani

Naik Jeep dari kawasan Pasar Tumpeng menuju Desa Ranu Pani titik awal pendakian Semeru.




Sampai di Ranu Pane, sekitar jam 3 sore kelompok kita di panggil menuju sebuah ruangan untuk mendengarkan arahan/ breafing terkait dengan Semeru. Pembahasan terkait dengan apa yang boleh, apa yang tidak boleh, apa yang harus dilakukan, apa yang harus di jauhi, dan gambaran umum perjalanan. Setelah breafing dan berkemas ulang tepat jam 17.00 WIB diawali dengan lantunan doa dan ayat suci Al Quran tak lupa pula mengucapkan Basmallah pendakian Semeru di mulai.

Pendakian tak semudah dan secepat yang saya bayangkan, hm mungkin beberapa faktor diantaranya kita mendaki bareng perempuan kemudian perjalanan awal juga terasa berat karena persediaan masih dalam keadaan 100%. Tak jarang hanya dalam hitungan beberapa menit setelah berhenti kita harus berhenti lagi, maklum bagi kita keselamatan yang utama. Pukul 23.00 WIB akhirnya kita tiba di Ranu Kumbolo, rasanya ah bahagia banget karena kita bisa istirahat, tapi eiits sebelum istirahat jangan lupa bangun tenda dan sholat tentunya setelah tenda selesai di bangun ada yang memilih menyerut teh atau kopi terlebih dahulu tapi pilihan saya adalah tiduuur karena seperti nya saat ini tidur adalah surga, tidur musti cukup supaya perjalanan besok bisa di lalui dengan maksimal.

Btw menurut saya 3 manajemen ini paling penting ketika melakukan pendakian yaitu manajemen makan (supaya gak masuk angin, tetap prima, tetap sehat), manajemen istirahat (supaya punya tenaga dan gak nyusahin orang lain) dan manajemen buang air karena kalau kita salah dalam memilih waktu dan lokasi habis lah kita rasanya ahhhh sakit men, jadi catet baik-baik 3 manajemen itu ahaha.

Pagi ini bener-bener berat dan menyiksa, bukan hanya karena kondisi badan yang pegel nya minta ampun, tapi juga suhu dingin yang rasanya menusuk tulang dan hati eaaaa.

Ada yang sarapan, ada yang beres-beres tenda, mencuci piring, bahkan ada juga yang menyempatkan diri menuju bilik hijau di pojok belakang kawasan camp ground buat em.. ah saya kira temen-temen pembaca udah tau ngapain kalau ke semak-semak bilik hijau di ranu kumbolo, ya apalagi kalau bukan melakukan setoran kalau saya mah kalau gak bener-bener kebelet gak mau kesono karena ah sungguh menyiksa jiwa dan raga.

Beberapa aturan yang harus kita perhatikan ketika melakukan aktivitas di Ranu kumbolo seperti dilarang mandi di Danau karena sangat berbahaya apalagi suhu Danau yang tidak bisa di prediksi bahkan pernah ada kejadian seorang pangantin yang baru menikah meninggal tenggelam di Ranu Kumbolo akibat kaku kedinginan, ketika kita ingin mencucui piring atau cuci muka dan cuci-cuci lainnya cara nya adalah ambil air kemudian menjauh dari Danau sekitar 2-3 meter kemudian gali lubang kecil kemudian silahkan lakukan aktivitas cuci-cucinya dan jangan lupa di tutup kembali lubangnya supaya danau tidak tercemar dan ekosistem tetap terjaga, begitu juga jika ingin mandi dan buang air, silahkan ambil air dengan botol atau wadah lainnya kemudian pergi ke tempat yang tertutup silahkan lakukan aktivitas yang harus dilakukan, keren kan ?

Ranu Kumbolo

Sekitar jam 11 siang kami melanjutkan perjalanan menuju camping ground terakhir tepatnya di Kalimati, tapi sebelum Kalimati masih banyak tantangan lain yang harus di lewati dan tantangan yang pertama setelah dari Ranu Kumbolo adalah Tanjakan Cinta. Saya rasa tanjakan ini sudah sangat melegenda apalagi setelah film 5 cm, mitos yang paling popular di tanjakan ini adalah “kalau kita mendaki tanjakan ini sampai atas tanpa melihat ke belakang dan sambil memikirkan orang yang kita suka atau sayangi maka percayalah kita akan mendapatkannya” tapi sebagai orang ber iman sudah selayaknya kita tidak percaya dengan hal yang beginian, hati-hati syirik bro Astaghfirullah al adzim. Awalnya saya berfikir tanjakan cinta itu biasa aja gak sulit-sulit amat tapi setelah di jalani uhhh, lumayan bikin megap-megap pokoke ngos ngosan dah, jadi jangan sepele yak.

Setelah tanjakan cinta kita akan memasuki vegetasi seperti padang rumput dan terdapat seperti hutan lavender tapi sebenernya itu bukan bunga lavender, hanya menyerupai dan jika temen-temen tertarik dengan ketinggian temen-temen bisa melewati jalur kiri sebelum turun ke lavender KW jalurnya seperti bukit, sama aja kok, kalau kami sih memilih perginya lewat bunga lavender kw dan baliknya lewat samping yang seperti bukit, jadi ada pemandangan lain yang di dapat. Setelah itu kita langsung menuju Cemoro Kandang untuk beristirahat, sholat dan makan tentunya.

Sholat zuhur sudah di tunaikan, lanjut makan siang, makanan sudah kita persiapkan sebelumnya ketika di Ranu Kumbolo, nah di Cemoro Kandang ada warga Ranu Pani yang berjualan seperti berbagai macam minuman botol, gorengan dan buah semangka. Jangan kaget dengan harga makanan disini karena harganya seperti harga Bandara, padahal gak ada pajak, sewa tempat dan barang mewah seperti gorengan dan semangka Rp 3.000,-/ pcs, atau per potong, minuman Aq*a botol 600 ml Rp 10.000/ botol dll tapi setelah saya pikr-pikir hal ini sangat wajar apalagi melihat jarak dan perjuangan pedangang melewati medan yang cukup berat dengan beban yang dibawa sampai bisa berjualan di Cemoro Kandang ini, pokoknya standing aplause lah buat bapak ibu pedagang ini. Istirahat sudah, so perjalanan kita lanjutkan menuju Jambangan, jarak Cemoro Kandang ke Jembangan sekitar 3 km tapi berbeda dengan 3 km di jalan raya atau di kota, 3 km disini mah jalannya naikan turunan berat men berat. Sampai di jambangan kita sekitar jam 15.30 sore, lelah perjalanan di bayar cicil dengan pemandangan Gunung Semeru yang berdiri gagah seakan-akan menghadap dan menyapa pendaki sedari Jambangan sampai dengan Kalimati.

Menuju Cemoro kandang


Tiba di Jambangan dan kita masih tetap kece badai



Setelah 30 menitan lebih dari Jambangan, akhirnya kita sampai di Kalimati, rasanya begitu senang karena Kalimati adalah camping ground terakhir sebelum pendakian sesungguhnya menuju puncak Semerui. Sesampainya di Kalimati setelah membangun tenda, berbenah dan mempersiapkan makan malam. Dalam hal ini tentunya kita semua tidak mau ambil resiko dengan begadang, melamun, atau bahkan melakukan hal tidak berguna lainnya. Semua terlihat mempersiapkan diri buat besok, istirahat maksimal supaya besok kita bisa memaksimalkan diri mendaki puncak Semeru. Pendakian besok kita harus mulai bergerak dari Kalimati menuju puncak Semeru jam 02.00 dini hari.

Berdoa dengan khusyuk, makan yang cukup, minum air hangat, memakai pakaian yang tebal ini merupakan beberapa persiapan kita sebelum memulai pendakian puncak Semeru karena jangan sampai karena kelalaian kita membahayakan diri kita dan menyusahkan orang lain. Hilangkan ego kenali diri sendiri, lebih empati kepada teman, merupakan kunci misi pendakian Semeru ini.

Pimpinan Backbone Adventure kembali mengingatkan kami “kalau ada yang sedang sakit atau tidak prima silahkan mundur, tinggal di tenda saja dari pada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ingat, tujuan kita bukan lah puncak tapi tujuan utama kita adalah pulang dengan selamat ke rumah masing-masing”. Tidak ada satu pun ingin mengambil resiko malam ini semua mengikuti instruksi pimpinan tak terkecuali saya, saya sangat bersyukur malam ini kondisi saya benar-benar prima benar-benar 100% dan saya siap menaklukkan Semeru dengan sehat & selamat.

Diantara 30 orang Backbone Adventure ada beberapa orang yang tidak ikut melakukan pendakian karena kondisi tubuh dan menurut saya itu piliahan yang sangat cerdas, karena kita yang paling tau kondisi tubuh kita.

PERJALANAN PENDAKIAN PUNCAK TERTINGGI PULAU JAWA, DIMULAI


Langkah menuju puncak di mulai dengan melewati vegetasi hutan yang sangat curam dan gelap, masing-masing dari kita sudah mempersiapkan strategi kelompok masing-masing dan menyiapkan perbekalan secukupnya untuk pendakian puncak. Carrier, tenda dan perlengkapan lainnya harus kita tinggal di Kalimati. Stelah sekitar 1 jam akhirnya kita melewati vegetasi hutan dan sampai di Arcopodo (silahkan serch arcopodo), vegetasi selanjutnya adalah pasir dan berbatuan dan start dari sinilah 100 % kita mendaki benar benar mendaki. Karena medannya pasir pendakian kita 3:1 artinya tiga langkah kita mendaki namun hanya satu langkah kita bergerak dari tempat semula.

Gak boleh lengah, gak boleh ngantuk, gak boleh takut, karena bahaya selalu mengintai kita dimana-mana seperti blank 75, blank 25 dan blank lain-lain yang sudah mengintai jika kita lengah dan kurang waspada. Fyi blank 75 maksudnya jurang dengan kedalaman 75 m, blank 25 jurang dengan kedalaman 25 meter dan seterusnya. Perjalanan pendakian puncak Semeru benar-benar gelap hanya senter tangan atau head lamp yang membantu perjalanan kita, sekitar 300 meter pendakian pasir pertama saya dkk harus mendaki dengan sangat super hati-hati, selain luas jalur pendakian hanya sekitar 1 meter, ditambah lagi sisi kanan dan kiri jalur pendakian terdapat jurang, bila mana kita terjatuh wassalam lah semua.

Waktu sudah memasuki pukul 04.30 artinya waktu sholat Subuh sudah masuk, saya dkk bahkan tidak tahu sudah sejauh apa kita mendaki dan berapa lama lagi kita harus terus mendaki, yang pasti yang kami tahu kami sudah mendaki selama hampir 3 jam, kondisi disini benar-benar dingin, pandangan terlihat gelap, dan puncak tak kunjung terlihat. Setelah sholat subuh di tunaikan dengan segala keterbatasan, saya dkk melajutkan perjalan, tak jarang hanya selang beberapa menit saya dkk harus berhenti sejenak walau hanya untuk menarik nafas, minum seteguk air atau menikmati sekeping roti, supaya kondisi ini tetap terjaga.

Pagi ini Sang Surya mulai terlihat dari ufuk Timur menampakkan dirinya, mengeluarkan pesona dan cahayanya menandakan hari sudah mulai terang dan kami harus bergegas mencapai puncak. Sekedar informasi setiap pendaki Semeru maksimal jam 10 pagi harus sudah meninggalkan puncak karena diatas jam 10 angin akan membawa awan / asap belerang kawah Semeru yang beracun menuju puncak sehingga sangat sangat berbahaya bagi pendaki, kami bertekad maksimal jam 9 pagi sudah sampai puncak supaya kita punya spare waktu 45 menit s.d 1 jam untuk berfoto dan menikmati Mahameru (julukan untuk puncak Semeru). Hari sudah mulai terang, jalur pendakian sudah terlihat jelas namun pucak belum kunjung terlihat, saat berpaling melihat ke bawah betapa kagetnya saya, ber jam-jam sejak pukul 02.00 dini hari bergerak dari camp dengan kondisi kedinginan dan sekarang sudah pukul 07.00 WIB ternyata baru sedekat ini saya mendaki, yassalam bener-bener perjuangan.

Rasa sebel & motivasi bercampur aduk, tak tahan rasanya ingin mencapai puncak apalagi ketika melihat ada pendaki lain yang sudah mulai menuruni Mahameru, entah karena mereka menyerah di tengah jalan entah juga mungkin mereka sudah sampai di Puncak, yang pasti dalam hati saya sudah bertekad “saya sudah sampai disini, pokoknya saya harus sampai puncak, puncak dan puncak”. Awalnya saya beserta tim saya (tim 3 bergerak bersama), namun dalam perjalanan kami terpisah menjadi tim-tim kecil bahkan diantara kami ada yang sudah menyerah. Waktu terus berputar dan terasa begitu cepat, saya dan semua temen-temen merasa lelah bahkan sangat lelah tapi saya terus dan terus mempercepat langkah saya. Satu hal yang harus sangat dihindari pendaki puncak Semeru adalah semaksimal mungkin jangan menginjak bebatuan karena sangat rawan longsor dan berbahaya bagi pendaki yang di bawah, selalu waspada dan perhatian ke depan, kalau ada batu yang jatuh langsung teriak dan peringatkan ke bawah.

Saya terus bergerak, terus melangkah, terus dan terus hingga rasa lelah menjadi terasa biasa, melewati beberapa orang yang saya kenal sambil sedikit menyapa “Mas, Bang duluan ya” , “mbak duluan ya” saya harus cepat karena waktu tidak mau menunggu. Puncak Mahameru sudah perlihat tapi masih terasa jauh, sambil sesekali mata ini menatap jarum jam melakukan kalkulasi, prediksi dan estimasi waktu sampai di puncak dan sampai akhirnya puncak Mahameru tinggal berjarak 100 meter dari saya. Tarik nafas dalam-dalam, sambil menghembuskan nafas dan sedikit berteriak Hah. Saya mulai berjalan cepat di campur dengan lari-lar kecil pertanda saya sudah sangat ingin menginjakkan kaki di Puncak.

Dan akhirnya sekitar pukul 08.15 an “Welcome to puncak Mahameru 3676 MDPL puncak tertinggi Pulau Jawa”. rasa syukur, lega, plong, senang, bahagia, haru, tawa, menghiasi momen ketika saya sampai di puncak. Sujud syukur, berteriak, dan mengelilingi bagian puncak Mahameru menjadi bagian dari ritual saya yang keluar begitu saja dengan balutan rasa syukur kepada Allah SWT. Berfoto dengan patok puncak Mahameru, dengan bendera merah putih, dengan bendera tauhid, berfoto dengan teman-teman lain yang sudah sampai di puncak dan mensupport temen-temen lain yang hampir sampai puncak dari kejauhan adalah bagian lain dari aktivitas saya di Mahameru. Tak jarang sesekali terdengar semburan atau letusan kecil dari kawah Gunung Semeru menandakan Semeru sedang aktif. Dari 30 orang pasukan Backbone Adventure hanya setengah yang berhasil sampai di Puncak, dan dari 10 orang kelompok 3 (kelompok saya) hanya 4 orang yang berhasil sampai di puncak tepat waktu, orang yang terakhir sampai di puncak dari tim kita sekitar pukul 09.45 hah rasanya legah sekali hampir saja.

Setelah jam menunjukkan pukul 10.00 WIB kita berfoto bersama dan langsung turun dari puncak Semeru. Jalur turunan terasa jauh lebih mudah dan ringan karena kita tinggal meluncur dengan kaki seperti orang main ski (penulisannya bener gak ya). Namun jangan sampai kita lalai karena menurut informasi lebih banyak orang kecelakaan dan cedera ketika turunan, mereka melakukan langkah yang gegabah apakah dengan berlari lalu terguling dan menghantam batu sampai beberapa bagian tulangnya patah, atau bahkan jatuh ke jurang.

Sesampainya di Kalimati (camping ground terakhir) dan bergabung dengan semua member Backbone Adventure kami berkemas dan langsung turun ke bawah dan singgah di Ranu Kumbolo untuk bermalam satu malam lagi.

Ada cerita unik lain dari perjalaln turun (pulang) ini, di perjalanan dekat pos 1 saya dan kawan-kawan berpapasan dengan sekelompok orang yang saya merasa kenal dengan mereka walaupun saya yakin tidak perah berjumpa (lah gimana ceritanya), beberapa diantara mereka terlihat diiringi porter dan guide tapi ada 4 orang yang paling mencolok dan berbeda diantara mereka, kulitnya putih, bersih, tinggi, posturnya bagus pokonya kalau saya dan temen-temen yang baru turun dibandingin sama mereka jauh lah, pokoknya jauh hahaha.

Spontan lisan saya dkk mengucapkan “Al ?” dan al pun tersenyum, di iringi dengan Dul di belakangnya dan El paling belakang terlihat pula ada perempuan (katanya sih artis tapis saya mah kagak kenal, itu pun kenal Al, El dan Dul karena serasa mirip aja, mungkin kalau kita disatuin jadi Vic, Al, El dan Dul. Hmmm sepertinya cocok ni bisa juga ni di buat filem judulnya “saudara kembar yang terpisah” wahaha dilarang protes. Setelah kelompok saya berpapasan dengan Al, El, dan Dul, seketika hutan yang begitu hening terdengar suara histeris namun sedikit samar, dalam hati saya “mungkin mereka histeris dan kaget melihat saudara-saudara kembar saya Al, El dan Dul. Mereka mah gak tau kalau saya sudah mandi, Al, El, dan Dul mah lewat (lewat, lewat doang).

Akhirnya setelah Magrib kami sampai di titik awal pendakian, Desa terakhir sebelum mendaki Semeru yaitu Ranu Pani. Perjalan selesai dan momen ini gak akan pernah terlupakan selamanya. Makasih temen-temen Backbone Adventure, makasih temen-temen tim 3, ada Nuri (lk), Shiddiq, Fadlur, Teh Kur, Mbak Nita, Ufai, Tsabit, Nurul, dan Nusaibah, pokonya terbaiklah. Salam tulang punggung my back !  


Read More
Kali Tim Majusatulangkah.com jalan-jalan dan ngereview Perjalanan ke Lombok Dengan Biaya Minim meriah loh, langsung aja ini kisahnya.

Perjalanan Surabaya-Lombok


Dalam kesibukan rutinitas pekerjaan dan dekapan kos ukuran 3 * 3 meter  bertepatan dua minggu setelah saya di rotasi dari Pontianak ke Surabaya teringat sebuah target lama, mimpi lama untuk menjelajahi salah satu tempat terbaik di Indonesia bahkan tahun 2016 Trip Advisor menetapkan destinasi ini sebagai wisata Halal No. 1 Dunia dan Lombok adalah jawabannya.
Komitmen saya dari awal pergi melalui jalur darat dan laut kemudian kembali dengan udara hal ini di karenakan saya harus menyimpan energi untuk rutinitas pekerjaan esok.

 kursi Kreta Ekonomi Surabaya-Banyuwangi
 Penampkan kursi Kreta Ekonomi Surabaya-Banyuwangi


Memulai perjalanan dari stasiun Gubeng lama Surabaya dengan tiket ekonomi di tambah saya mengunnakan kupon dari pegipegi.com  saya hanya mengeluarkan Rp 35.000,- an untuk perjalanan sekitar 6 jam dari surabaya-Banyuwangi. Setelah perjalanan yang panjang dan pastinya melelahkan akhirnya sampailah di stasiun Banyuwangi baru.
 
Dari stasiu Banyuwangi baru saya melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Ketapang yang ternyata jaraknya sangat dekat paling berjalan kaki hanya sekitar 5 menitan pokoknya dekat banget lah tapi kalau temen-temen mau naik ojek dari stasiun ke pelabuhan juga boleh lah hanya membayar Rp 10.000,- itung-itung sedekah ke tukang ojek. Dari Pelabuhan saya langsung ke loket untuk beli tiket penyebrangan hanya sekitar Rp 6.000,- karena penyebrangan dari banyuwangi ke pelabuhan Gilimanuk Bali hanya sebentar. Dan akhirnya sampailah saya di pelabuhan Gilimanuk tapi jangan senang dulu karena perjalanan masih sangat panjang, kemudian perjalanan saya lanjutkan dengan bus dari pelabuhan Gilimanuk ke Terminal Ubung dengan bus dengan biaya Rp 40.000,- dengan durasi sekitar 3 jam an perjalanan.

Saya sampai di terminal Ubung sudah malam hari dan hampir tidak ada bus yang bisa melayani perjalanan ke pelabuhan Padangbai (pelabuhan yang melayani penyebrangan Bali-Lombok) namun seperti kata pepatah rezeki tidak akan lari kema. kebetulan saya memiliki teman yang sedang tugas di Balidan beliau bersedia mengantarkan saya dari Denpasar ke Pelabuhan Padangbai. Sekitar pukul 01.00 tengah malam saya sampai di Pelabuhan Padangbai untuk melanjutkan perjalanan dengan kapal laut sekitar 5 jam menuju pelabuhan Lembar Lombok dengan biaya sekitar Rp 45.000,-  dan akhirnya tibalah saya di pelabuhan Lembar menandakan saya telah sampai di pulau Lombok. Sepanjang keluar dari kapal wajah saya tersenyum menandakan betapa bahagia dan bersyukurnya saya bisa sampai di Lombok yang merupakan satu dari sekian banyak cita-cita saya. Alhamdulillah.  


Kejutan Yang Maha Esa


Saya belum tau akan tinggal dimana, saya belum tau bagaimana cara saya meng explore Lombok yang saya tau saya hanya punya satu teman perempuan yang sedang tugas di Lombok dan saya harus maksimalkan. Turun dari kapal menuju gedung pelabuhan Lembar dari kejauhan saya melihat seseorang sepertinya saya kenal, dengan berseragam pegawai Dinas Perhubungan dia juga melihat saya. 

Jarak kami semakin dekat dan saya pun mempercepat  langkah saya, dengan suara setengah di tahan pegawai dishub menyebut nama saya “ vicky ? “ saya juga menyebut namanya “ wahyu?” tapi kami bukan cinlok kayak di tipi-tipi kami laki-laki kami normal wahahaha dan tau apa yang terlintas pertama dalam fikiran liar saya ?  “alhamdulillah malam ini tidur aman”  setelah ngobrol sana-sini  wahyu mengeluarkan sebuah kata-kata surga “tidur di kontrakan aku aja“ bagi saya tawaran Wahyu ibarat kita berbuka puasa di hari terakhir Puasa Ramadhan plooong rasanya, tanpa basa basi dengan ikhlas (lah) saya terima tawaran Wahyu. Alhamdulillah rezeki anak sholeh wal ganteng.  

Perjalanan ke Lombok Murah
Sayadan Wahyu (baju dinas) di Pelabuhan Lembar Lombok


Perjalanan hari pertama di Lombok saya mulai dengan sarapan nasi khas Lombok kemudian ke Dusun Sasak Sade, Pantai Kute Lombok, city tour Mataram, menikmati pemandangan lombok dari bukit Astari Resto  dan diakhiri dengan menikmati sunset di Bukit marise (sebenernya banyak lagi sih tapi lupa nama-namanya). Semua perjalanan  di hari pertama ini di bantu Yuchita. (dalam hati pembaca) “perasaan dari tadi gak ada bahas nama Yuchita lah, kok mendadak nongol nama Yuchita ? eiiits (mendadak kayak di pilem-pilem alur mundur) zzzzzttttt, nah jadi di pelabuhan saya di jemput Yuchita temen satu kantor tapi beda penempatan  sebenernya sih kita selama ini sekedar kenal dan gak akrab tapi saya nya aja sok-sok kenal sok sok akrab dan pakek mintak tolong bantuin di Lombok lagi dan alhamdulillah jadi akrab beneran dan jadilah hari pertama saya diajak keliling Lombok, alhamdulillah rezeki anak sholeh.


Desa Sasak Sade
Pantai Kute Lombok
Menikmati Pantai Kute Lombok

Bukit Marise
view Lombok dari Astari Resto

Hari ke-2

Nah kebetulan hari ini 15 April 2017 si Wahyu sedang off (bukan cabut ya), dan babang Wahyu ini dengan baik hatinya mau nganterin saya jalan ke destinasi lain di sekitaran Pulau Lombok dan berangkatlah kita ke Sembalun kaki gunung Rinjani. Karena satu dan lain hal kita sih berangkatnya agak kesiangan tapi ah sudahlah kita jalan aja tapi eiiits kayaknya bener sepertinya hari ini kita kurang lucky soalnya di perjalanan kita sempat berhanti beberapa kali dikarenakan di Lombok sedang ada kejuaraan sepeda Internasional Tour The Lombok  yang jalurnya dari kota Mataram sampai ke arah Sembalun.  sepanjang jalan banyak pak Polisi dan pak Tentara di dampingi ratusan bocah SD yang menyambut para pembalap sepeda dari berbagai Negara dan tak jarang pak Polisi dengan mobil patwal nya mondar mandir sambil teriak-teriak “Bapak Ibu mohon kepinggir , mohon jalan di sterilkan karena pembalap akan melewati rute ini “ eh padahal sampai hampir 30 menit pembalapnya gak lewat-lewat, dan sampai persimpangan menuju naik ke atas sembalun  motor kita kembali di hentikan, kalau pun mau lewat nanti setelah pembalap terakhir lewat dan kita harus di belakang mereka “waduh ya gak mungkin lah ini aja udah lewat zuhur, lah jam brapa lagi mau nyamapi sembalun” dan setelah diskusi gak panjang dengan om Wahyu akhirnya kita ubah rute perjalanan kita menuju air terjun yang arahnya berlawanan dengan Sembalun.

Engingeng … setelah beberapa jam sampailah kita di air terjun Kelambu dan tetangganya air terjun kelambu (lupa namanya) gimana pemandangannya ? pokok nya mantap kali lah kurasa apalagi aernya dingin kali bah (tiba-tiba logat medan), sebenernya pengen banget mandi tapi ah gak jadi lah cuma cuci mukak sama basah-basah kaki aja trus kita balik  dan menikmati malamnya kota Mataram  dan diakhiri dengan menikmati ayam Taliwang ah… rasanya saya menikmati setiap detik hidup ini Alhamdulillah .

Air Terjun Kelambu



Hari ke-3

Ekspedisi kali ini Wahyu gak ikut alasanya ya karena dianya masuk kerja tapi untunya kita udah sewa sepeda motor buat jalan saya di hari ke-3, lagi lagi saya mau bilang alhamdulillah karena biasanya di Lombok pasaran sewa motor per hari 65-100 rebu tapi berkat bantun om Wahyu saya cuma bayar 50 rebu men… pokoknya alhamdulillah lah motor ini bisa murah karena kita sewanya di sebuah hotel yang pernah di gunakan oleh kantor dan tamunya om Wahyu buat nginap, sebenernya sih saya gak boleh sewa karena yang sewa harus tamu hotel tapi berkat lobi-lobi om Wahyu (kayaknya dia terbiasa gombal cewek lah wkwkwk bercanda bro) akhirnya boleh di sewain deh. 

Esoknya Jam 5.30 WIT  saya sendirian sudah bergegas memacu motor ke arah pantai Senggigi dengan harapan bisa melihat sunrise pagi ini tapi bukan itu tujuan utamanya karena tujuan saya adalah Gili Trawangan maklum lah kejar kapal pagi.  Dari pelabuhan Bangsal menuju Gili Trawangan dengan speedboat muatan sekitar 20-30 orang memerlukan waktu 45 menit dengan tiket seharga Rp 10.000,-/ orang  (lumayan murah lah ) trus ngapain disana ? apalagi sendiri ?

Di Gili Trawangan saya putusin untuk sewa sepeda per jam kalau tidak salah Rp 15.000,- lumayan mahal sih tapi bisalah buat keliling-keliling pulau biar gak keliatan kali jomblonya.
Jam menunjukkan baru pukul 10.00 WIT tapi saya merasa sudah puas mengelilingi Gili Trawangan bahkan sudah berjemur ala bule-bule di pantai Gili Trawangan dan saya memutuskan untuk balik ke Mataram dan melanjutkan perjalanan sendirian ke Sembalun,
Ya Sembalun destinasi gagal kemarin namun harus berhasil kali ini.
Gili Trawangan
Penyewaan sepeda di Gili Trawangan

Kapal yang mengangkut penumpang ke Gili Trawangan

Dengan kecepatan rata-rata 75 km/ jam saya pacu motor dengan semangat dan seperti kebiasaan saya yang sudah-sudah saya selalu ingin cepat cepat dan cepat dan sampailah saya di kawasan Taman Wisata Pusuk Sembalun, mulai dari kawasan ini saya gak berhenti-berhenti untuk berdecak kagum sambil bersyukur betapa besarnya Indonesia, betapa indahnya Indonesia betapa besarnya Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, tak jarang sesekali saya mengucapkan “subhanallah” dengan spontan menandakan  betapa takjubnya saya dengan ciptaanNya. 

Sebelumnya saya sudah tanya-tanya ke om google tentang destinasi wisata apa aja yang bisa saya dapet kalau mengunjungi sembalun dan sekitarnya dan pertama lokasi yang saya kunjungin adalah air terjun mangkusakti, yes motor pun saya belokkan ke kiri ke arah air terjun mangkusakti dan dari simpang jalan aspal ke lokasi parkir air terjun mangkusakti sekitar 40 menit. Perjalanan ke Air terjun mangkusakti gak berhenti disitu bro setelah melalui sekitar 40 menit ke dalam dengan jalan yang luar biasa sempit dan rusak berbalut tanjakan tibalah saya di parkiran dan dari parkiran harus berjalan kaki lagi sekitar 15 menit ke lokasi air terjun mangkusakti, bayangin aja saya berjalan sekitar 15 menit tanpa ketemu siapapun di hutan-hutan walaupun saya sempat takut dan khawatir bukan karena apa saya khawatir ketemu hewan buas seperti kucing, jangkrik dll (lah itu mah lucu).

Sampai di mangkusakti hanya ada sekitar 6 orang disana yah lumayan sepi di luar perkiraan saya dan saya kurang beruntung karena air terjun sedang tak bagus warnanya tapi alhamdulillah bisa sampai. Singkat cerita sampailah saya di parkiran motor kembali bersiap pulang tapi seperti pepatah mengatakan kalau rezeki enggak kemana, tanpa sengaja saya bertemu dengan seorang anak muda lokal yang sedang mengantarkan wisatawan dari Malalaysia ke air terjun mangkusakti sebut saja namanya Mr. L (kepanjangan dari Lupa saya benar-benar lupa), saya dan Mr. L pun terlibat sebuah diskusi ringan namun terkesan sangat penting tentang dunia pariwisata dan gunung sampai akhirnya Mr. L tanya saya “setelah ini mau kemana?” 

Saya jawab “ mau ke Bukit Pegangsingan, menikmati desa sembalun, wisata strauberry, ke Bukit selong sekaligus Desa purba di daerah sembalun” kemudian Mr. L tanya lagi “bermalam di Sembalun ? nginap dimana ?” jawab saya “ iya bang, belum tau ni mau nginap dimana niatnya sih di rumah warga sekitar bang” Mr. L kemudian mengeluarkan kata-kata mutiara yang sangat saya nantikan kurang lebih begini “nginap di rumah saya aja, mau? Kan seru bermalam di kaki rinjani nanti sekalian saya anterin ke bukit pegasingan dan wisata sekitara sembalun” tanpa basa basi apalagi nolak saya langsung jawab “ok bang siap, makasih ya bang saya terimakasih tawarannya” wahaha saya mah kali ini gak pakai segan gak pakai malu gak pakai bas basi kawatir Mr. L berubah pikiran (abang orangnya kayak gitu dek).

Sore menjelang magrib saya sudah di basecamp Mr. L sekaligus rumahnya ternyata Mr. L (usianya di bawah saya 2 thn an) tinggal terpisah dengan orangtuanya dan Mr. L sedang merintis sejenis travel agen untuk pendakian rinjani dan wisata sembalun, sore ini saya di tawarkan untu melihat sunset dari rumah pohon dan kebun tempat mangkalnya Mr. L dkk, malamnya sebelum tidur sekalian berkeliling desa kami sempatkan untuk membeli beberapa keperluan dan bahan makanan untuk pendakian Bukit pegasingan besok subuh.
Perjalanan ke Lombok Dengan Biaya Minim

Air Terjun Mangkusakti


Perjalanan ke Lombok Dengan Biaya Minim


Perjalanan ke Lombok Dengan Biaya Minim


Walau subuh ini terasa lebih berat dari subuh-subuh lainnya (disamping harus bangun jam 4 pagi) cuaca Sembalun yang begitu dingin sedikit mengendorkan semangat saya tetapi ternyata semangat saya lebih kuat dan hangat  dari rasa lelah dan dingin ini , pendakian di mulai tentunya sesuatu yang menakjubkan sudah menunggu kami diatas sana.  Sebenernya saya sudah terbiasa mendaki tapi tidak bersama expert seperti Mr. L ini dan pendakian kali ini sebenernya berdekatan dengan event Jogja Marathon dimana saya akan berpartisipasi di kategori Half marathon ( 21 KM), di karenakan moment nya pas saya sampaikan ke Mr. L “ bang kalau dakinya mau cepat-cepat silahkan aja, saya akan coba ikuti, gak usah kawatir saya juga sekalian latihan Half Marathon” eh ternyata gara-gara sombong, untuk pertama kalinya dalam hidup saya mendaki, saya se drop itu sampai mata berkunang-kunang dan hampir aja pingsan walau terseok seok dan penuh drama akhirnya kami tiba di puncak sebelum sunrise Alhamdulillah  kembali terucap syukur dari lisan saya atas segala yang sudah saya terima ata segala kebaikan Sang Pencipta.
Sunrise pagi ini adalah salah satu sunrise terbaik yang pernah saya lihat apalagi jika menoleh ke kanan kita akan di suguhkan dengan pemandangan Gunung Rinjani yang begitu indah, ah pokoknya saya bahagia saya puas, saya menikmati setiap tetes darah dalam hidup saya alhamdulillah.
Perjalanan ke Lombok Dengan Biaya Minim

Perjalanan ke Lombok Dengan Biaya Minim




Turun bukit Pegasingan perjalanan berlanjut ke Bukit selong sekaligus Desa purba atau menurut cerita Desa pertama di kawasan kaki Gunung Rinjani. 
Akhirnya perjalanan saya di Sembalun pun selesai dan bersiap untuk balik ke Kota Mataram bertemu dengan Wahyu untuk berpamitan , mengembalikan pinjaman motor dan bertemu Yuchita yang nantinya akan mengantarkan saya ke Bandara di hari tu juga.
Saya berpamitan dengan Mr. L dkk untuk kembali ke Mataram lanjut ke Surabaya sambil menyalamkan sedikit uang sebagai ucapan terimakasih. Terimakasih banyak atas jamuan, bantuan dan kebaikannya,  Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dan memberikan yang terbaik untuk saya dan kalian semua, amin.  Sekian tentang Perjalanan ke Lombok Dengan Biaya Minim silahkan baca juga artikel perjalanan menarik lainnya ya.
Perjalanan ke Lombok Dengan Biaya Minim
Puncak Dewi Anjani ( Rinjani yang begitu Indah)

Perjalanan ke Lombok Dengan Biaya Minim
Puncak Bukit Pegasingan
Menikmati sunrise di Puncak Bukit Pegasingan




Read More
Dari setiap perjalanan akan ada selalu yang namanya pemberhentian. Biasanya pemeberhentian tersebut untuk mengisi tenaga dan menenangkan fikiran. Terutama Traveler muslim atau lebi kerennya disebut Musafir sangat membutuhkan yang namanya tempat sholat. Biasanya hal ini di sembarikan sambil cari tempat makan sehingga menghemat waktu untuk singgah di sebuah tempat.

Sedangkan untuk kota medan, ada banyak sekali rumah makan yang menyediakan musholla, ada juga beberapa cafe yag tidak menyediakan tempat sholat. Namun beberaa cafe menyediakan juga temat sholat tetapi tidak menyediakan  tempat sholat yang nyaman. Bagi para musafir tentu kenyamanan juga menjadi penentu untuk memilih cafe tersebut. oleh karena itu kali ini tim Maju Satu Lagkah Telah menentukan kalau ada sebuah Cafe Musholla Luas di Sekitar Dr Mansyur Medan. Nama cafenya adalah Warunk Everyday.

Warunk Every

 
Di cafe yang baru buka tahun 2017 ini, banyak sekati terdapat makanan atau menu yang unik. Muslai dari berbagai jenis ice blanded, sampai makanan jenis katsu jepang. selain nyaman untuk para penjelajah yang singgah di sekitaran Dr mansyur atau USU, tempat ini sangat nyaman untuk disinggahi.

Terdaat ebberapa kursi sofa yang memiliki senderan sampai keatas kepala orang yang mendudukinnya. Selain itu terapat juga toilet yang super duper bersih tanpa bau pesing seperti pada tempat umum lainnya. untuk cabany yang di Dr mansyur ini memang tidak terdapat Wifi id, akan tetapi terdapat wifi gratis untuk pengunjung. Wifi yang diberikan juga lumayan cepat untuk pemakaian sosial media.

Disini juga terdapat musholla yang lumayan luas. kira-ira dapat menampung maksimum 50 orang berjamaah sekaligus wanita dan pria. Selain itu di belakangnya juga terdapat taman yang dipenuhi oleh dedaunan hijau. Dedaunan ini biasnaya dijadikan tempat berfoto terutama untuk teman-teman hits kekinikan. Selain itu di tempat tersebut di sediakan ebberapa properti seperti tempat duduk dan sepeda untuk berfoto ria.

Baca juga : Ngetem di Kito Floral Cafe & Resto
Read More
Malam tujuh belasan kali ini nggak ada yang special. Paling menikmati hilangnya rasa resah akan belum selesainya kuliah kini telah hilang. Walau pun revisi setelah sidang belum disetujuin paling enggak ada yang sudah di lewati. Kemudian line berbunyi pertanda sebuah pesan masuk ke dalamnya. Ternyata pesan dari salah seorang teman yang rumahnya beda beberapa gang dari rumahku. Isi line tersebut menanyakan apakan saat tujuhbelasan nanti aku ada acara atau tidak. Sepertinya tujuhbelasan tahun ini di komplesk rumah nggak ada perayaan tujuhbelasan seperti biasanya. Karena tidak ada kegiatan selama tujuhbelasan si kawan yang nge-line ngajak jalan ke arah Tanjung Pura, lebih tepatnya ke arah mesjid Azizi. Alasannya nggak ada yang jadi supir di perjalanan. 

Pejalanan pun dimulai jam 9 pagi dari rumah si kawan ke rumah kawan yang lainnya di depan asrama haji. Sepanjang perjalanan yang biasanya di prediksi kalau di kampung lalang bakalan macet ternyata tidak macet. Malahan ternyata saat tujuhbelasan kota stabat ramai karena ada karnavalnya, hal ini menyebabkan sedikit macet di jalan. Kemudian perjalanan berlangsung dengan aman dan nyaman sampai mendekati kota Tanjung Pura. Mendekati kota Tanjung Pura Tenyata kemacetan kembali terjadi. Ternyata perayaan tujuhbelas agustusan di kota ini juga besar.

Perayaan 17an kota Tanjung Pura

Sangking besarnya perayaan tujuh belasan di Kota Tanjng Pura ini, beberapa jalan ditutup dan tidak bisa di lewati. Pada awalnya kami rombongan mengira perayaan tidak melewati depan Mesjid Azizi, sehingga kami mencari jalan lain untuk memutar. Modal google map hampir semua gang kami lewati ternyata selalu berakhir dengan jalan yang tutup. Setelah lelah mencari jalan akhirnya kami memutuskan untuk mencari rumah makan yang ada di sekitar dahulu dan istirahat sholat Zuhur di mesjid terdekat.

Setelah selesai makan kemudian seorang temen bersemangat kembali untuk mencari jalan lagi. Muter kembali kearah yang sudah di lewati dan ternyata berujung macet total akhirnya kami putar balik. Saat putar balik ada tukang parkir yang memberitahukan jalan menuju Mesjid Azizi. Dengan sangat percaya diri karena sudah dikasih tau tukang parkir alias warga lokal akirnya jalan yang kami tuju juga nggak bisa lewat. Akhirnya kami memilih memarkirkan kendaraan sedikit jauh dari mesjid tersebut dan berjalan kaki ke arah mesjid. Ternyata perayaan utamanya malah melewati depan mesjid.

Perayaan dikota ini dibuat sebuah karnaval yang cukup meriah. Isi dari karaval tersebut mulai dari drumband, becak di hias, sampai orang berpakaian unik. Ada juga perwakilan dari beberapa sekolah di sekitar kota Tajung Pura.
 

Mesjid Azizi dan Kemegahannya


Setelah puas jepret-jeret dan ngambil video sedikit akhirnya kami masuk ke Mesjid Azizi. Ternyata mesjidnya baru saja dicat ulang sehingga memiliki warna yang lebih cerah. Sewaktu memasuki gerbang mesjid ada tukang jualan Mie pecel, kayaknya enak banget. Sayangnya mau beli passs pulangnya mie pecelnya sudah tidak ada lagi. 


Mesjid ini seperti menceritakan secara tidak langsung seberapa megahnya kerajaan langkat pada masanya. Dari segi arsitekturnya yang sangat mendetail mesjid  ini menunjukan seberapa hebatnya pembuatnya pada masa itu. Dilihat dari ruang Utama sholatnya banyak ornamen-oranamen detail yang ada di dalamnya.

Ditambah lagi Kompleks mesjid ini juga cukup luas, terdapat dua buah tempat wudhu. Kedua tempat Wudhu ini memisahkan antara tempat wudhu erempuan dan tempat wudhu laki-laki. Di dalam komples mesjid juga terdapat menara yang besar untuk mengumandangkan azan. Sayangnya kami belum dapat kesempatan untuk bisa memasuki menara tersebut.

Setelah puas berfoto dan mengambil gambar akhirnya kami pulang dengan rasa bangga ternyata Sumatera Utara memiliki sejarah yang luar biasa dilihat dari peninggalan-peninggalannya. Untuk yang males baca silahkan nonton aja Video dibawah yang juga menjelaskan tentang bagaimana suasana perayaan 17 agustusan di Mesjid Azizi Tanjung Pura.

Read More
Masjid Al Serkal, Phnom Phenh, Kamboja

Cewek! Nginap di Mesjid Kamboja Biasa aja tuh!- Salah satu hal yang paling menyenangkan dari sebuah perjalanan adalah merencanakannya. Riset sederhana lokasi tujuan dan membuat draft perjalanan merupakan dua hal yang paling ditunggu-tunggu selain eksekusi perjalanan itu sendiri. Kenapa? Ini adalah saat dimana fantasi liar dan ide-ide gila yang bermunculan. Setiap perjalanan harus memiliki Check Point, it means, ada beberapa hal yang harus dilakukan dan hal tersebut pastinya adalah hasil dari fantasi-fantasi liar tadi.

Waktu yang ideal menyusun draft perjalanan adalah satu sampai dua minggu sebelum keberangkatan. Dua minggu minus satu hari adalah jumlah hari yang akan dihabiskan selama berpetualang di lima negara ASEAN. Kamboja, Viet Nam, Laos, Thailand, dan Malaysia akan jadi pengisi stempel terakhir di passport yang akan expired pada awal tahun 2017.

Salah satu Check Point dalam perjalanan kali ini adalah Nginep di Masjid. Meskipun, Sebagai seseorang yang mendeskripsikan diri "tidak terlalu" relijius (terlalu berat menyandang sebutan ini), tetapi rasanya tak lengkap bemusafir tanpa dilengkapi indahnya bermalam di rumah Sang Khalik.

If you want to know how far you believe in your faith, be a Minority.


Minoritas adalah sebuah label yang diberikan bagi suatu kelompok dengan jumlah yang tidak lebih banyak dari kelompok lainnya dalam sebuah populasi pada satu ekosistem. Sulitnya ujian yang Allah SWT berikan kepada manusia adalah bukti nyata kepercayaan Dia akan kemampuan manusia. Dan menjadi minoritas itu sulit, konflik dan tekanan dari pihak kaum Mayoritas adalah sebagian kecil dari ujian yang dihadapi dan hampir mustahil untuk dihindari. Besarnya keyakinan dan kecintaan terhadap apa yang diyakini adalah satu-satunya kunci yang mampu membendungnya. "

They blame you because you look different, but you know we are all the same in the eye of God and He is the only one who can Judge


Kamboja, Viet Nam, Laos, Thailand adalah negara dengan jumlah Muslim dibawah 10%, bahkan di Viet Nam dan Laos, jumlah Muslim berada di bawah angka 1% dari total populasi yang ada. Phnom Phenh, Kamboja adalah salah satu check point karena disini cuma akan menghabiskan waktu kurang dari 12 jam di ibukota Kamboja ini dan gak punya destinasi lain untuk dikunjungi.

Setibanya di Phnom Phenh sekitar pukul 9 malam setelah menghabiskan lima jam perjalanan dari Siem Reap via Bus kecil ala metromini. Sempat nyasar dan muter-muter karena terkendala bahasa, Kamboja menggunaka bahasa nasional, Khmer. Gak jauh beda dengan di Indonesia, rata-rata mereka gak bisa bahasa Inggris, dan bahasa tubuh selalu jadi andalan. Tunjuk sana, tunjuk sini, komunikasi paling efektif yang dipahami oleh umat dari belahan dunia manapun. 

Interior Masjid Al - Serkal, Phnom Phenh, Kamboja 

Masjid Al Serkal, Masjid besar di Phnom Penh terletak di Preah Monivong Blvd (93), tepatnya di ujung Moak Chrouk St (86). Masjidnya besar dan bagus. Setelah nge-Isya, muter-muter dan mencari penjaga untuk melobi apakah gembel traveler ini diperbolehkan nginep beberapa jam. Walaupun sempat terkendala bahasa, akhirnya izin menginap diberikan yeey, tapi bukan di dalam masjid, melainkan di gudang bawah masjid. Hehe. Alhamdulillah lah pokoke. (FYI: Di sekitar masjid ada banyak penginapan yang pemiliknya muslim kalau gak mau ribet)

Kamar Kos Gembel di Masjid Al Serkal
Kamar Kos Gembel di Masjid Al Serkal


One Check Point in my bucket!


Sesuai perjanjian awal, bangun dan pergi sebelum fajar hari ini. Shalat subuh diisi dua shaf laki-laki dan dua orang di shaf belakang. aku dan seseorang. Selain kehilangan alasan untuk meninggalkan sholat, beberapa benefit dari nginep di Masjid adalah:
  • Peaceful
  • Bersih
  • Interior yang berbeda di setiap Masjid
  • Sekitar Masjid pasti ada makanan Halal
  • Berbaur dengan Lokal

Dengan populasi kurang dari 3%, makanan halal udah bisa dibayangin sulitnya. Umumnya, Muslim lokal yang tinggal di Indochina adalah keturunan Malaysia. Menu terbaek untuk gembel yang gak makan seharian adalah Nasi Hainan yang harganya cuma USD 1,5 dan Teh Vietnam sebagai penghangat pagi. Dan........ aku disamperin oleh seseorang yang satu shaf saat sholat shubuh di Masjid. Doi adalah Muslim lokal, suaminya merupakan salah satu imam di Masjid Al Serkal dan orang tua nya adalah imigran Malaysia, tapi makcik lahir di Kamboja, doi cuma bisa ngomong sepatah-dua kata Melayu. Makcik membekali air minum 1,5 liter sebagai teman memperpanjang langkah. Alhamdulillah. Indahnya bermusafir.

Sarapan bersama Makcik, 4 Agustus 2016
Sarapan bersama Makcik, 4 Agustus 2016


Selain makcik tadi, ada juga beberapa Muslim lokal yang nyamperin di sana. Mungkin doa mereka menjadi salah satu pengantar perjalanan yang penuh cerita ini. Sejak hari itu, Masjid, dinobatkan sebagai pit stop terbaikku, selain benefit-benefit yang di sebutin di atas, selalu ada cerita di dalamnya, mulai dari ngobrol-ngobrol dengan lokal, kenalan baru, dan banyak hal yang membuatnya lebih spesial.

Betewe, total Budget yang keluarkan selama di Phnom Phenh tidak lebih dari USD 2. He. he. he sekian tulisan ini mengenai Cewek Traveler ini Nginap di Mesjid Kamboja

Penulis : elisa wahyuni @eelisawah
Read More
Brunei, Negara Kecil Penuh Berkah - Perjalan kali ini saya memilih Brunai Darussalam sebagai tujuan saya, saya tertarik dengan Negara ini yang Pemerintahannya berupa kesultanan dan menerapkan sistem Absolut Monarki. Selain itu Brunei merupakan negara yang sangat kaya, dengan pendapatan perkapita rakyatnya menempati urutan terbesar ke-5 di dunia dan tentunya hal ini tidak lepas dari negara nya yang kaya raya yang sumber utama kekayaannya berasal dari minyak bumi, hal ini juga tentu saja ditambah pengelolaan yang benar dari pemerintah dan ditujukan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat serta hajat hidup orang banyak, wah jika kalian sempat datang kesini bakal merasakan betapa berkahnya negeri ini. 

Perjalanan ke Brunei 


Brunei, Negara Kecil Penuh Berkah
Brunei, Negara Kecil Penuh Berkah

Bagi saya perjalanan kali ini sangat istimewa, selain dilakukan dengan solo backpacker, perjalanan ini juga dilakukan ketika pergantian tahun dari 2016 ke 2017 dan ini juga berbeda dengan perjalanan sebelumnya yang jika ke luar negeri harus menggunakan pesawat terbang, namun kali ini saya memilih menggunakan bus, yap selain ongkos jauh lebih hemat, hal ini juga dikarenakan mumpung saya ditugaskan oleh perusahaan tempat saya bekerja di Pontianak. Dari Pontianak ada bus yang melayani perjalanan darat Pontianak-Brunei Darussalam PP dengan Ongkos Rp 750.000, kita bisa memilih menggunakan bus Damri Milik Pemerintah Indonesia atau dengan bus SJS milik swasta Indonesia, ada yang tau kenapa bus Indonesia mau beroprasi dari Pontianak ke Brunei PP setiap hari? Ya.. alasannya tak lain dan tak bukan karena banyaknya arus/gelombang TKI dari Indonesia ke Brunei, cukup miris sih soalnya TKI nya bukan TKI yang punya skill namun TKI tanpa skill yang ujung-ujungnya hanya menjadi pekerja kasar atau pembantu toko dan rumahtangga.


Balik lagi ke perjalanan saya ke Brunei, dari Pontianak saya berangkat jam 8 pagi melalui terminal Antar Negara Ambawang dengan bus SJS dengan biaya Rp 750.000,- bagi saya ini adalah tarif bus termahal yang pernah saya naiki, dan kondisi di dalam bus biasa aja.  Perjalanan kita lakukan melalui darat melewati Kecamatan Sosok, Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat dan masuk melalui batas antar Negara Indonesia – Malaysia yang dikenal dengan Border Entikong, temen-temen jangan kira perjalanan dari Pontianak ke Entikong mulus, lumayan parah, bahkan berkilometer tanpa aspal khusunya di daerah sanggau. Namun berita baiknya untuk Border Indonesia sudah mengalami renovasi dari sebelumnya dan jika saya bandingkan dengan Border Malaysia dan Brunei Border Indonesia yang paling keren... yeeeeee.

Perjalanan kita lanjutkanke Brunei melewati Jalur pinggiran Malaysia, Sarawak Khusunya, tapi kita tidak masuk ke Kota Kuching, kita dari jalur yang berbeda. Tepat pukul 6.00 pagi Waktu Brunei kita sudah tiba di Border Brunei untuk melakukan pengecapan paspor dan Introgasi serta pemeriksaan bawaan. Biasanya yang ditanya seputar ngapain ke brunei? berapa lama? ada uang tunjuk? Berapa banyak?... eiitssss uang tunjuk ? ada yang tau apa itu uang tunjuk? nah kalau kita ke Brunei dengan alasan wisata/travelling biasanya petugas imigrasi mau lihat berapa banyak uang yang kita miliki, mereka khawatir kita jadi gelandangan atau TKI yang bisa menyusahkan negaranya, menurut supir bus minimal uang tunjuk DB 300, atau setara Rp 3 jt an. Alhamdulillah saya bisa lewat dengan bahagia.

Saya beserta bus SJS yang saya tumpangi (yang isinya TKI kecuali saya) tiba di Bandar Sri Bengawan Brunei Darussalam sekitar pukul 9.30 waktu Brunei, kemudian hal pertama saya lakukan adalah mencari hotel/ tempat untuk menginap tujuannya adalah agar backpack saya bisa disimpan di penginapan jadi lebih ringan berjalan kemana-mana terlebih jika pulang kemalaman sudah ada tempat untuk menginap.

Seperti yang sudah saya googling sebelumnya ketika di Indonesia saya memiliki 2 opsi penginapan dengan key message "Penginapan ala Backpacker " yaitu Pusat Belia Youth Hostel yang terletak dekat dengan pasar Kianggeh di Jl. Kianggeh dengan harga 10-15 BND namun sayangnya ketika saya sampai penginapan inis edang tutup s.d 31 Desember 2016. Tanpa pikir panjang saya mencari penginapan ke 2  yang menurut informasi yang saya dapatkan berada di depan Hotel Brunei artinya di pusat kota ada penginapan murah namanya K.H Soon Service and Resthouse, dari pusat perhentian bus ke Pusat Belia Youth Hostel s.d ke K.H. Soon Resthouse saya lalui dengan berjalan, untungnya sudah terlatih berlari ditengah kota ber kilo-kilo meter, jadi jarak segitumah sikat abis.

Sampai di Brunei 


Alhamdulillah sesampainya di penginapan ke2  masi ada kamar yang kosong, lebih tepatnya bad yang kosong karena saya mengambil tipe Dorm bukan kamar, maklum saja Dorm harganya paling murah cocok buat backpacker ngirit seperti saya cuma 20 BND  atau setara  Rp 180.000 rb an walaupun sudah ada perubahan tarif dari sebelumnya hanya 15 BND, Alhamdulillah.


KH. Soon Resthouse Brunei tepat nya di Lt. 3 cocok untuk backpacker terletak di pusat kota Lokasinya di depan Hotel Brunei  Harga paling murah Dorm 20 BND
KH. Soon Resthouse Brunei tepat nya di Lt. 3 cocok untuk backpacker terletak di pusat kota
Lokasinya di depan Hotel Brunei
Harga paling murah Dorm 20 BND


Penginapan sudah, langsung mandi , langsung gas city tour pusat kota Bandar Sri Bengawan dan inis aya lakukan di tengah trik matahari siang brunei dengan berjalan kaki, OMG panas banget, tapi jujur kali ini saya tidak perduli dengan kulit yang menghitam wong aslinya juga udah hitam, hitam manis tepatnya. Perjalanan saya mulai dengan mengunjungi Kianggeh Open Air Market dilanjutkan ke Brunei Arts and Handcraft Training Centre lalu ke Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien sambil sholat zuhur. Setelah zuhur saya lanjutkan perjalanan dengan menjalani setapak demi setapak Bandar Sri Begawan  dan menyinggahi Pusat sejarah dan kebudayaan Brunei Darussalam setelah selesai melihat-lihat , kemudian saya mencari bus untuk tujuan Masjid Jame’ Asr Hassanil Bolkiah yang merupakan masjid terbesar di Brunei. Masjid ini memiliki 29 kubah emas dan dibangun untuk memperingati 25 tahun pemerintahan Sultan Bolkiah Hassani di Brunei. Saya naik dengan nomor bus 01 dan sekedar informasi bus di Brunei mematok tarif 1 BND untuk semua jarak, dekat ataupun jauh tapi kalau sudah turun bus dan naik lagi ya bayar lagi. 

Bus di brunei atau sering disebut disebut Bas memiliki warna yang berbeda-beda tergantung dari arahnya apakah lintas timur, selatan datau arah lainnya, dan jalur busnya di tentukand ari no bus nya. Jangan khawatir klarena biasanya di setiap terminal bus akan di pasang jalur lintas bus. Satu hal juga yang membuat saya tertarik adalah bus di brunei 90% nya dinaiki oleh turis atau tenaga kerja asing (umumnya Indonesia-India) bahkan supirnya juga kalau bukan orang Indonesia ya orang India, Sultan Brunei memberikan kemudahan kepada rakyat Brunei untuk memiliki kendaraan khusunya mobil namun tetap mempertahankan transportasi umum yang menurut hemat saya kebijakan transportasi umum ini sangat membantu para turis, dan tenaga kerja asing.

Sesampainya di Masjid Jame’ Asr Hassanil Bolkiah, saya sempatkan untuk mencicipi sholat asar berjamaah di masjid ini, dan seperti ekspektasi saya masjid ini benar-benar megah dan adem banget. Setelah sholat asar  dikarenakan kondisi kepala yang mulai dangdutan saya putuskan untuk balik ke resthouse dengan bus. Kebetulan resthouse saya berdekatan dengan terminal induk bus hanya  Istana ini punya 1.788 ruangan, termasuk 257 kamar mandi. Selain itu, ada pula aula yang bisa menampung hingga 5.000 tamu dan sebuah masjid yang bisa menampung 1.500 jamaah.



Masjid Jame’ Asr Hassanil Bolkiah  Masjid terbesar di Brunei Darussalam dengan 29 Kubah Emas dapat diakses denngan bus no 01 dari terminal Kianggeh
Masjid Jame’ Asr Hassanil Bolkiah
Masjid terbesar di Brunei Darussalam dengan 29 Kubah Emas dapat diakses denngan bus no 01 dari terminal Kianggeh 


Istana Nurul Iman juga memiliki garasi yang memuat 110 mobil, ruangan untuk 200 kuda poni sang sultan dan 5 kolam renang. Setidaknya ada 165 mobil Rolls Royces yang ada di garasinya. Wah!

Dalam total, istana ini memiliki luas 200.000 meter persegi, berdasarkan luas lantai. Karena luas dan banyaknya ruangan di sini, dibutuhkan 564 tempat lilin, 51.000 bohlam lampu, 44 tangga dan 18 tangga jalan
sekitar 300 m, dan dekat dengan warung Indonesia (saya sebut warung Indonesia karena penjualnya pakai  bahasa jawa dan pelanggannya semua orang Indonesia, TKI tentunya).

Sejujurnya malam ini adalah malam tahun baru masehi 2017. Biasanya dinegara lain khusunya Indonesia tahun baru dirayakan dengan penuh kemeriahan mulai dari petasan dimana-mana, aksi konvoi di jalanan bahkan tidak sedikit orang yang menjadikannya sebagai ajang maksiat (kultum dikit). Namun hal berbeda dan unik ditunjukan oleh Brunei, Negara dan mayoritas masyarkat Brunei memilih menghabiskan malam pergantian tahun baru masehi dengan bercengkaraman bersama keluarga, 31 Desember 2016 saya coba untuk sholat magrib di Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien (Icon Brunei)   namun terlihat suasananya biasa saja, tidak ada yang istimewa, kemudian saya sempatkan sedikit berjalan kaki mengelilingi Bandar Sri Begawan, juga suasananya biasa saja, lalu saya kembali ke resthouse dan menuju tengah malam dari jendela lt. 3 resthouse saya melihat-lihat apakah ada aktivitas perayaan tahun baru, dan hasilnya Brunei sepi senyap, begitulah cara Negara Brunei menghabiskan akhir tahun dan menyambut tahun yang baru, saya berfikir dalam menjalani pergantian tahun mungkin mereka lebih memilih dengan cara berdoa, muhasabah dan bersyukur. Berkahnya Negeri ini.

Minggu 1 Januari 2017 jam 7 pagi saya langsung bergegas menuju terminal Kianggeh untuk mengeksekusi semua plan yang tersusun di kepala, dan destinasi pertama yang saya pilih adalah National Stadion atau Stadium Negara Hassanal Bolkiah dengan menaiki bus No. 36 warna biru. Sesampainya disana eng ing eng ing eng .... Sepi. Jika saya bandingkan pagi hari di jam yang sama di stadion GBK bahkan stadion SSA Pontianak, Nasional Stadion Brunei jauh lebih sepi, namun alhamdulillah di tengah kebingungan saya untuk mencari transportasi menuju Bandar Sri Begawan di karenakan pada hari minggu banyak jalan di Brunei yang ditutup untuk bus s.d jam 10 pagi. 

Didalam kegundahan dan kebingungan saya dipertemukan dengan sebut saja namanya bang Amer (nama Instagram) warga negara Brunei, awalnya saya bertanya lokasi bus stop tapi karena kebaikan hatinya saya mau diantar sampai ke resthouse dan boleh request pulak, sebelum ke resthouse saya diantar mengelilingi bandar sri begawan di pagi hari dengan mobilnya, kemudian singgah di Istana Nurul Iman yaitu Pusat pemerintahan dan kerajaan sekaligus tempat tinggal raja Brunei yang baik hati (hampir semua warga Brunei sepakat, saya juga sepakat, kalau tidak baik hati mana mau Sultan Brunei menyediakan bus yang 90 % nya ditumpangi oleh tenaga kerja asing bahkan dipekerjakan).

Sekedar informasi setiap hari raya Syawal/ hari raya Idul Fitri Sultan membuka Istana untuk dikunjungi oleh semua rakyatnya bahkan tenaga kerja asing, semua orang bisa masuk ke Istana, bertemu dengan raja dan mendapatkan mekanan gratis dan acara ini berlangsung selama 3 hari. 


Brunei Tourism Map Sangat membantu karena dilengkapi dengan jalur bus, kuliner dan  informasi lainnya Bisa diambil di Lt. 2 KH.Soon resthouse
Brunei Tourism Map
Sangat membantu karena dilengkapi dengan jalur bus, kuliner dan  informasi lainnya
Bisa diambil di Lt. 2 KH.Soon resthouse 

Menurut Guiness Book of Record Istana Nurul Iman Brunei Darussalam menempati urutan pertama sebagai Istana terbesar di Dunia, Istana ini punya 1.788 ruangan, termasuk 257 kamar mandi. Selain itu, ada pula aula yang bisa menampung hingga 5.000 tamu dan sebuah masjid yang bisa menampung 1.500 jamaah. Istana Nurul Iman juga memiliki garasi yang memuat 110 mobil, ruangan untuk 200 kuda poni sang sultan dan 5 kolam renang. Setidaknya ada 165 mobil Rolls Royces yang ada di garasinya. Istana ini punya 1.788 ruangan, termasuk 257 kamar mandi. Selain itu, ada pula aula yang bisa menampung hingga 5.000 tamu dan sebuah masjid yang bisa menampung 1.500 jamaah.

Istana Nurul Iman juga memiliki garasi yang memuat 110 mobil, ruangan untuk 200 kuda poni sang sultan dan 5 kolam renang. Setidaknya ada 165 mobil Rolls Royces yang ada di garasinya. Wah!

Dalam total, istana ini memiliki luas 200.000 meter persegi, berdasarkan luas lantai. Karena luas dan banyaknya ruangan di sini, dibutuhkan 564 tempat lilin, 51.000 bohlam lampu, 44 tangga dan 18 tangga jalan

Dalam total, istana ini memiliki luas 200.000 meter persegi, berdasarkan luas lantai. Karena luas dan banyaknya ruangan di sini, dibutuhkan 564 tempat lilin, 51.000 bohlam lampu, 44 tangga dan 18 tangga jalan,  wah Brunei dan Sultan memang kaya maka sangat patut kita sematkan sebagai Muslim Kuat.

Setelah dari Istana Nurul iman saya melanjutkan perjalanan ke pusat Bandar untuk menaiki kapal speed dan mengunjungi Kampung Anyer. Kampung Anyer berdiri diatas sungai Brunei dan dikenal sebagai desa air terbesar di dunia, bahkan beberapa orang menyebutnya sebagai ‘Venesia dari Timur’. Tempat ini adalah rumah bagi 40.000 warga yang mewakili 10 % dari total penduduk Brunei, bahkan dikampung ini terdapat berbagai jenis rumah, sekolah, layanan darurat sampai dengan markas pemadam kebakaran, satelit bahkan wifi, jangan heran kalau kampung ini jauh dari kata kumuh, for me its amazing village

Setelah  berjalan menyusuri kampung Anyer saya kembali menaiki speed boat  menuju Jembatan yang sedang dibangun yang menghubungkan Brunei dengan Malaysia, setelah itu saya kembali naik speed boat menuju terminal Kianggeh untuk mengambil bus menuju Museum Brunei, Museum Teknologi dan museum Maritim Brunei, sayangnya museum Brunei sedang tutup jadi hanya bisa mengunjungi museum Teknologi dan Museum Maritim.


Speed Boat penyebrangan menuju Kampong Anyer 1 BND = Rp 9500. Untuk mengelilingi kampung selama 40 menitan 10 BND
Speed Boat penyebrangan menuju Kampong Anyer 1 BND = Rp 9500.
Untuk mengelilingi kampung selama 40 menitan 10 BND

Tarif speed boat hanya 1 BND untuk menyebrang namun untuk berwisata mengelilingi Kampong Anyer dengan durasi 40 menitan sekitar 10 BND.

Suasana di Bus / angkutan umum no. 01 lintas timur. Tiket hanya 1 BND
Suasana di Bus / angkutan umum no. 01 lintas timur.
Tiket hanya 1 BND 


Dari museum saya kembali ke Terminal Kianggeh dan membeli tiket pulang dengan Bus Damri seharga 80 BND atau setara Rp 750.000,-  bus akan jalan pukul 15.00 waktu Brunei sedangkan saat itu masi pukul 11.30 waktu Brunei, sebelum anggap saja sebagai salam perpisahan saya tunaikan zuhur saya di masjid Sultan Omar Ali Saifuddin kemudian sambil menunggu bus berangkat saya mencicil tulisan ini sambil nongkrong di pendopo upacara Brunei Darussalam sambil menikmati nasi Khatok favorit Tenaga Kerja Asing dan backpacker karena harganya Cuma 1 BND sudah pakai ayam, alhamdulillah murah meriah berkah. Tepat jam 15.00 waktu Brunei Bus Damri kita berangkat dari Brunei bertolak ke Indonesia melewati Sarawak Malaysia dan tiba di Indonesia keesokan harinya tepatnya di Terminal Antar Negara Ambawang pukul 14.00 WIB. Alhamdulillah.  

Kegiatan ini memerlukan dana yang lumayan untuk seorang kariawan, solusi untuk mengimpulkan dana pertama estimasikan terlebih dahulu berapa biaya yang akan kita keluarkan unuk perjalanan ini. Kemudian mulailah menabung. Dizaman modren seperti saat ini sudah tidak lagi menabung dengan menggunakan celengan atau di taruh dibawah bantal. Alangkah lebih baiknya kita menabung di bank saja. Mungkin salah satu pilihan terbaik Bank adalah Bank SUMUT. Ini adalah estimasi perjalanan kemarin semoga bermanfaat.

Tiket Pontianak-Brunei dengan Bus SJS                  Rp 750.000
Tiket Brunei-Pontianak dengan Bus Damri              Rp 750.000
Dorm/ resthouse                                                        Rp 180.000
Tiket Speed Boat                                                       Rp 30.000
Tiket Bus selama di Brunei                                       Rp  60.000
Makan selama di perjalanan PP dan di Brunei         Rp 230.000  

Total Budget                                                            Rp 2.000.000,-

Terminal Antar Negara Ambawang Kalimantan Barat
Terminal Antar Negara Ambawang
Kalimantan Barat


Cerita ini didukung oleh Bank Sumut #ayokebanksumut #banknyaorangsumut

Penulis : Vicky Yogha Sinulingga  @sinulingga_vicky
Read More