Inspirasi Gunung Semeru

3 comments
Inspirasi Gunung Semeru - Libur Hari Raya Idul Fitri 1438 H / 2017 ini dijadwalkan saya akan menghabiskan waktu liburan selama 2 minggu di kampung halaman Deli Serdang/Medan Sumatera Utara, baru 2 hari saya di kampung halaman tiba-tiba sebuah pesan Whasapp masuk ke hp saya kurang lebih bunyinya begini … eh maaf gak ada bunyi deng soalnya hp selalu silent, kira-kira isi pesannya seperti ini “Bang, kita mau ke Semeru ni kira-kira tgl 29 Juni s.d 4 Juli 2017, mau ikut gk ?” saya balas “sama siapa aja” teman saya kembali membalas pesan saya “sama temen-temen tergabung dalam Backbone adventure, rata-rata alumni Politeknik Negeri Jakarta” waduh padahal saya baru akan balik dari Medan ke Surabaya tgl 5 Juli 2017 bertepatan dengan habisnya jadwal cuti saya masak harus di percepat sih ? lalu pesan WA tersebut saya balas “kasih waktu aku beberapa hari untuk mikir yu”. Nah yang jadi bahan pertimbangan saya adalah :

1. Saya pulang kampung ke Medan rata-rata setahun sekali, masak iya saya cuma di kampung semingguan dari schedule awal dua minggu, apa kata dunia?

2. Nanti kalau orangtua ngajak jalan-jalan sekitar Sumatera Utara gimana? Masak ia saya gak bisa ikut? Kasian Bapak nyetir sendiri.

3. Kalau misalkan ikut ke Semeru harus reschedule tiket lagi dong ? haish koyak lagi nih dompet.

4. Mimpi mendaki Semeru sudah sejak beberapa tahun lalu, masak ia aku lewatin momen emas ini gitu aja, padahal mumpung ada tim buat gerak bareng.

5. Saya lupa alasan lainnya mau ngarang juga bingung mau nulis apa hehehe

Beberapa hari kemudian saya chat temen yang kemarin ajak saya ke Semeru “yu, ok aku jadi ke Semeru, minta tolong bantuin reschedule tiket ya, makasih” di jawab “ok bang”.

Lebaran Idul Fitri pertama tahun ini saya dan keluarga habiskan di rumah sambil menyambut tamu yang datang dan malamnya mengunjungi sanak saudara tradisi inimerupakan tradisi yang sangat baik di Indonesia. Ke esokan harinya saya dan keluarga mengunjungi rumah nenek di Pematang Siantar sekitar 130 an Km dari Kota Medan. Di awal saya sudah sampaikan kepada kedua orangtua kalau saya akan mempercepat waktu saya kembali ke Surabaya karena saya akan mendaki gunung Semeru dan Alhamdulillah saya bersyukur banget punya orangtua yang selalu memahami apa keinginan, mimpi dan kesenangan saya dan izin orangtuapun akhirnya saya kantongi.

Rencana keluarga berubah yang seharusnya akan menghabiskan sekitar 2 hari di Siantar berubah menjadi 1 hari saja. dari hari raya ke-3 kita putuskan untuk jalan ke beberapa destinasi wisata di Sumatera Utara, seperti Danau Toba, Tiga Ras, Tongging, Simarjarunjung, Sipiso-Piso dan mutar ke arah Kabanjahe, Berastagi lalu kembali kerumah. sebagai menutup rasa bersalah saya karena harus balik ke Surabaya lebih awal, se dari Medan-Siantar-Perapat-Tiga Ras-Simarjarunjung-Sipisopiso-Kabanjahe saya yang nyetir, semaksimal mungkin saya berlagak kuat walau Bapak selalu bilang “ngah kalau capek bilang ya supaya gantian” tapi setiap Bapak saya bilang gitu saya selalu jawab “gpp pak, masih kuat kok, masih biasa” sampai di suatu tempat tepatnya di Berastagi karena saya sangat-sangat mengantukdan demi menjaga ke selamatan dirid an keluarga barulah posisi driver digantikan Bapak.

Ke esokan harinya tepatnya sore hari saya sudah bergegas menuju Bandara Kuala Namu untuk terbang ke Surabaya. 29 Juni 2017 saya tiba di Surabaya dan langsung di jemput oleh teman di Bandara, kemudian menuju kosan untuk saya packing barang-barang yang akan dibawa pendakian Semeru. Yes packing selesai saya langsung di antar menuju Stasiun Gubeng Baru dengan tiket yang sudah saya beli online sebelumnya ketika masih di Medan. Kereta saya pun jalan menuju Malang Jawa Timur. pagi ini di Stasiun besar Malang saya bertemu dengan 30 orang yang akan menjadi bagian dari tim saya untuk menaklukkan gunung Semeru. Dari 30 orang ini, kita di bagi menjadi 3 tim, artinya masing-masing tim terdiri dari 10 orang dan kebetulan di tim saya ada 5 perempuan (perempuan ganas dan tangguh) dan 5 laki-laki. Dari 30 orang ini saya hanya kenal 2 orang. Satunya kenal karena terlibat dalam satu organisasi yaitu Forum Komunikasi Mahasiswa Politeknik se-Indonesia dan satunya lagi kenal-kenal gitu aja tapi gak pernah ngobrol, dalam hati saya “ yah lumayan lah, Alhamdulillah jadi punya banyak temen”.

Perjalanan sudah di mulai, misi penaklukan Semeru harus berhasil. Sebenernya se dari awal pimpinan rombongan selalu menyampaikan “tujuan kita bukan puncak, tapi tujuan kita adalah kembali dengan selamat” artinya jika benar-benar tidak mampu lagi, ya jangan paksakan diri kita karena keselamatan lebih penting dari apapun disinilah kita belajar mengenali batas kemampuan kita dan menghilangkan ego dalam dirikita. Pokoknya mantap kali lah.

3 angkot berwarna biru yang sudah di sewa oleh tim Backbone Adventure membawa kita ke daerah pasar tumpeng untuk selanjutnya menaiki jeep menuju titik awal pendakian Desa Ranupane.

Tiba di Ranu Pani

Naik Jeep dari kawasan Pasar Tumpeng menuju Desa Ranu Pani titik awal pendakian Semeru.




Sampai di Ranu Pane, sekitar jam 3 sore kelompok kita di panggil menuju sebuah ruangan untuk mendengarkan arahan/ breafing terkait dengan Semeru. Pembahasan terkait dengan apa yang boleh, apa yang tidak boleh, apa yang harus dilakukan, apa yang harus di jauhi, dan gambaran umum perjalanan. Setelah breafing dan berkemas ulang tepat jam 17.00 WIB diawali dengan lantunan doa dan ayat suci Al Quran tak lupa pula mengucapkan Basmallah pendakian Semeru di mulai.

Pendakian tak semudah dan secepat yang saya bayangkan, hm mungkin beberapa faktor diantaranya kita mendaki bareng perempuan kemudian perjalanan awal juga terasa berat karena persediaan masih dalam keadaan 100%. Tak jarang hanya dalam hitungan beberapa menit setelah berhenti kita harus berhenti lagi, maklum bagi kita keselamatan yang utama. Pukul 23.00 WIB akhirnya kita tiba di Ranu Kumbolo, rasanya ah bahagia banget karena kita bisa istirahat, tapi eiits sebelum istirahat jangan lupa bangun tenda dan sholat tentunya setelah tenda selesai di bangun ada yang memilih menyerut teh atau kopi terlebih dahulu tapi pilihan saya adalah tiduuur karena seperti nya saat ini tidur adalah surga, tidur musti cukup supaya perjalanan besok bisa di lalui dengan maksimal.

Btw menurut saya 3 manajemen ini paling penting ketika melakukan pendakian yaitu manajemen makan (supaya gak masuk angin, tetap prima, tetap sehat), manajemen istirahat (supaya punya tenaga dan gak nyusahin orang lain) dan manajemen buang air karena kalau kita salah dalam memilih waktu dan lokasi habis lah kita rasanya ahhhh sakit men, jadi catet baik-baik 3 manajemen itu ahaha.

Pagi ini bener-bener berat dan menyiksa, bukan hanya karena kondisi badan yang pegel nya minta ampun, tapi juga suhu dingin yang rasanya menusuk tulang dan hati eaaaa.

Ada yang sarapan, ada yang beres-beres tenda, mencuci piring, bahkan ada juga yang menyempatkan diri menuju bilik hijau di pojok belakang kawasan camp ground buat em.. ah saya kira temen-temen pembaca udah tau ngapain kalau ke semak-semak bilik hijau di ranu kumbolo, ya apalagi kalau bukan melakukan setoran kalau saya mah kalau gak bener-bener kebelet gak mau kesono karena ah sungguh menyiksa jiwa dan raga.

Beberapa aturan yang harus kita perhatikan ketika melakukan aktivitas di Ranu kumbolo seperti dilarang mandi di Danau karena sangat berbahaya apalagi suhu Danau yang tidak bisa di prediksi bahkan pernah ada kejadian seorang pangantin yang baru menikah meninggal tenggelam di Ranu Kumbolo akibat kaku kedinginan, ketika kita ingin mencucui piring atau cuci muka dan cuci-cuci lainnya cara nya adalah ambil air kemudian menjauh dari Danau sekitar 2-3 meter kemudian gali lubang kecil kemudian silahkan lakukan aktivitas cuci-cucinya dan jangan lupa di tutup kembali lubangnya supaya danau tidak tercemar dan ekosistem tetap terjaga, begitu juga jika ingin mandi dan buang air, silahkan ambil air dengan botol atau wadah lainnya kemudian pergi ke tempat yang tertutup silahkan lakukan aktivitas yang harus dilakukan, keren kan ?

Ranu Kumbolo

Sekitar jam 11 siang kami melanjutkan perjalanan menuju camping ground terakhir tepatnya di Kalimati, tapi sebelum Kalimati masih banyak tantangan lain yang harus di lewati dan tantangan yang pertama setelah dari Ranu Kumbolo adalah Tanjakan Cinta. Saya rasa tanjakan ini sudah sangat melegenda apalagi setelah film 5 cm, mitos yang paling popular di tanjakan ini adalah “kalau kita mendaki tanjakan ini sampai atas tanpa melihat ke belakang dan sambil memikirkan orang yang kita suka atau sayangi maka percayalah kita akan mendapatkannya” tapi sebagai orang ber iman sudah selayaknya kita tidak percaya dengan hal yang beginian, hati-hati syirik bro Astaghfirullah al adzim. Awalnya saya berfikir tanjakan cinta itu biasa aja gak sulit-sulit amat tapi setelah di jalani uhhh, lumayan bikin megap-megap pokoke ngos ngosan dah, jadi jangan sepele yak.

Setelah tanjakan cinta kita akan memasuki vegetasi seperti padang rumput dan terdapat seperti hutan lavender tapi sebenernya itu bukan bunga lavender, hanya menyerupai dan jika temen-temen tertarik dengan ketinggian temen-temen bisa melewati jalur kiri sebelum turun ke lavender KW jalurnya seperti bukit, sama aja kok, kalau kami sih memilih perginya lewat bunga lavender kw dan baliknya lewat samping yang seperti bukit, jadi ada pemandangan lain yang di dapat. Setelah itu kita langsung menuju Cemoro Kandang untuk beristirahat, sholat dan makan tentunya.

Sholat zuhur sudah di tunaikan, lanjut makan siang, makanan sudah kita persiapkan sebelumnya ketika di Ranu Kumbolo, nah di Cemoro Kandang ada warga Ranu Pani yang berjualan seperti berbagai macam minuman botol, gorengan dan buah semangka. Jangan kaget dengan harga makanan disini karena harganya seperti harga Bandara, padahal gak ada pajak, sewa tempat dan barang mewah seperti gorengan dan semangka Rp 3.000,-/ pcs, atau per potong, minuman Aq*a botol 600 ml Rp 10.000/ botol dll tapi setelah saya pikr-pikir hal ini sangat wajar apalagi melihat jarak dan perjuangan pedangang melewati medan yang cukup berat dengan beban yang dibawa sampai bisa berjualan di Cemoro Kandang ini, pokoknya standing aplause lah buat bapak ibu pedagang ini. Istirahat sudah, so perjalanan kita lanjutkan menuju Jambangan, jarak Cemoro Kandang ke Jembangan sekitar 3 km tapi berbeda dengan 3 km di jalan raya atau di kota, 3 km disini mah jalannya naikan turunan berat men berat. Sampai di jambangan kita sekitar jam 15.30 sore, lelah perjalanan di bayar cicil dengan pemandangan Gunung Semeru yang berdiri gagah seakan-akan menghadap dan menyapa pendaki sedari Jambangan sampai dengan Kalimati.

Menuju Cemoro kandang


Tiba di Jambangan dan kita masih tetap kece badai



Setelah 30 menitan lebih dari Jambangan, akhirnya kita sampai di Kalimati, rasanya begitu senang karena Kalimati adalah camping ground terakhir sebelum pendakian sesungguhnya menuju puncak Semerui. Sesampainya di Kalimati setelah membangun tenda, berbenah dan mempersiapkan makan malam. Dalam hal ini tentunya kita semua tidak mau ambil resiko dengan begadang, melamun, atau bahkan melakukan hal tidak berguna lainnya. Semua terlihat mempersiapkan diri buat besok, istirahat maksimal supaya besok kita bisa memaksimalkan diri mendaki puncak Semeru. Pendakian besok kita harus mulai bergerak dari Kalimati menuju puncak Semeru jam 02.00 dini hari.

Berdoa dengan khusyuk, makan yang cukup, minum air hangat, memakai pakaian yang tebal ini merupakan beberapa persiapan kita sebelum memulai pendakian puncak Semeru karena jangan sampai karena kelalaian kita membahayakan diri kita dan menyusahkan orang lain. Hilangkan ego kenali diri sendiri, lebih empati kepada teman, merupakan kunci misi pendakian Semeru ini.

Pimpinan Backbone Adventure kembali mengingatkan kami “kalau ada yang sedang sakit atau tidak prima silahkan mundur, tinggal di tenda saja dari pada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ingat, tujuan kita bukan lah puncak tapi tujuan utama kita adalah pulang dengan selamat ke rumah masing-masing”. Tidak ada satu pun ingin mengambil resiko malam ini semua mengikuti instruksi pimpinan tak terkecuali saya, saya sangat bersyukur malam ini kondisi saya benar-benar prima benar-benar 100% dan saya siap menaklukkan Semeru dengan sehat & selamat.

Diantara 30 orang Backbone Adventure ada beberapa orang yang tidak ikut melakukan pendakian karena kondisi tubuh dan menurut saya itu piliahan yang sangat cerdas, karena kita yang paling tau kondisi tubuh kita.

PERJALANAN PENDAKIAN PUNCAK TERTINGGI PULAU JAWA, DIMULAI


Langkah menuju puncak di mulai dengan melewati vegetasi hutan yang sangat curam dan gelap, masing-masing dari kita sudah mempersiapkan strategi kelompok masing-masing dan menyiapkan perbekalan secukupnya untuk pendakian puncak. Carrier, tenda dan perlengkapan lainnya harus kita tinggal di Kalimati. Stelah sekitar 1 jam akhirnya kita melewati vegetasi hutan dan sampai di Arcopodo (silahkan serch arcopodo), vegetasi selanjutnya adalah pasir dan berbatuan dan start dari sinilah 100 % kita mendaki benar benar mendaki. Karena medannya pasir pendakian kita 3:1 artinya tiga langkah kita mendaki namun hanya satu langkah kita bergerak dari tempat semula.

Gak boleh lengah, gak boleh ngantuk, gak boleh takut, karena bahaya selalu mengintai kita dimana-mana seperti blank 75, blank 25 dan blank lain-lain yang sudah mengintai jika kita lengah dan kurang waspada. Fyi blank 75 maksudnya jurang dengan kedalaman 75 m, blank 25 jurang dengan kedalaman 25 meter dan seterusnya. Perjalanan pendakian puncak Semeru benar-benar gelap hanya senter tangan atau head lamp yang membantu perjalanan kita, sekitar 300 meter pendakian pasir pertama saya dkk harus mendaki dengan sangat super hati-hati, selain luas jalur pendakian hanya sekitar 1 meter, ditambah lagi sisi kanan dan kiri jalur pendakian terdapat jurang, bila mana kita terjatuh wassalam lah semua.

Waktu sudah memasuki pukul 04.30 artinya waktu sholat Subuh sudah masuk, saya dkk bahkan tidak tahu sudah sejauh apa kita mendaki dan berapa lama lagi kita harus terus mendaki, yang pasti yang kami tahu kami sudah mendaki selama hampir 3 jam, kondisi disini benar-benar dingin, pandangan terlihat gelap, dan puncak tak kunjung terlihat. Setelah sholat subuh di tunaikan dengan segala keterbatasan, saya dkk melajutkan perjalan, tak jarang hanya selang beberapa menit saya dkk harus berhenti sejenak walau hanya untuk menarik nafas, minum seteguk air atau menikmati sekeping roti, supaya kondisi ini tetap terjaga.

Pagi ini Sang Surya mulai terlihat dari ufuk Timur menampakkan dirinya, mengeluarkan pesona dan cahayanya menandakan hari sudah mulai terang dan kami harus bergegas mencapai puncak. Sekedar informasi setiap pendaki Semeru maksimal jam 10 pagi harus sudah meninggalkan puncak karena diatas jam 10 angin akan membawa awan / asap belerang kawah Semeru yang beracun menuju puncak sehingga sangat sangat berbahaya bagi pendaki, kami bertekad maksimal jam 9 pagi sudah sampai puncak supaya kita punya spare waktu 45 menit s.d 1 jam untuk berfoto dan menikmati Mahameru (julukan untuk puncak Semeru). Hari sudah mulai terang, jalur pendakian sudah terlihat jelas namun pucak belum kunjung terlihat, saat berpaling melihat ke bawah betapa kagetnya saya, ber jam-jam sejak pukul 02.00 dini hari bergerak dari camp dengan kondisi kedinginan dan sekarang sudah pukul 07.00 WIB ternyata baru sedekat ini saya mendaki, yassalam bener-bener perjuangan.

Rasa sebel & motivasi bercampur aduk, tak tahan rasanya ingin mencapai puncak apalagi ketika melihat ada pendaki lain yang sudah mulai menuruni Mahameru, entah karena mereka menyerah di tengah jalan entah juga mungkin mereka sudah sampai di Puncak, yang pasti dalam hati saya sudah bertekad “saya sudah sampai disini, pokoknya saya harus sampai puncak, puncak dan puncak”. Awalnya saya beserta tim saya (tim 3 bergerak bersama), namun dalam perjalanan kami terpisah menjadi tim-tim kecil bahkan diantara kami ada yang sudah menyerah. Waktu terus berputar dan terasa begitu cepat, saya dan semua temen-temen merasa lelah bahkan sangat lelah tapi saya terus dan terus mempercepat langkah saya. Satu hal yang harus sangat dihindari pendaki puncak Semeru adalah semaksimal mungkin jangan menginjak bebatuan karena sangat rawan longsor dan berbahaya bagi pendaki yang di bawah, selalu waspada dan perhatian ke depan, kalau ada batu yang jatuh langsung teriak dan peringatkan ke bawah.

Saya terus bergerak, terus melangkah, terus dan terus hingga rasa lelah menjadi terasa biasa, melewati beberapa orang yang saya kenal sambil sedikit menyapa “Mas, Bang duluan ya” , “mbak duluan ya” saya harus cepat karena waktu tidak mau menunggu. Puncak Mahameru sudah perlihat tapi masih terasa jauh, sambil sesekali mata ini menatap jarum jam melakukan kalkulasi, prediksi dan estimasi waktu sampai di puncak dan sampai akhirnya puncak Mahameru tinggal berjarak 100 meter dari saya. Tarik nafas dalam-dalam, sambil menghembuskan nafas dan sedikit berteriak Hah. Saya mulai berjalan cepat di campur dengan lari-lar kecil pertanda saya sudah sangat ingin menginjakkan kaki di Puncak.

Dan akhirnya sekitar pukul 08.15 an “Welcome to puncak Mahameru 3676 MDPL puncak tertinggi Pulau Jawa”. rasa syukur, lega, plong, senang, bahagia, haru, tawa, menghiasi momen ketika saya sampai di puncak. Sujud syukur, berteriak, dan mengelilingi bagian puncak Mahameru menjadi bagian dari ritual saya yang keluar begitu saja dengan balutan rasa syukur kepada Allah SWT. Berfoto dengan patok puncak Mahameru, dengan bendera merah putih, dengan bendera tauhid, berfoto dengan teman-teman lain yang sudah sampai di puncak dan mensupport temen-temen lain yang hampir sampai puncak dari kejauhan adalah bagian lain dari aktivitas saya di Mahameru. Tak jarang sesekali terdengar semburan atau letusan kecil dari kawah Gunung Semeru menandakan Semeru sedang aktif. Dari 30 orang pasukan Backbone Adventure hanya setengah yang berhasil sampai di Puncak, dan dari 10 orang kelompok 3 (kelompok saya) hanya 4 orang yang berhasil sampai di puncak tepat waktu, orang yang terakhir sampai di puncak dari tim kita sekitar pukul 09.45 hah rasanya legah sekali hampir saja.

Setelah jam menunjukkan pukul 10.00 WIB kita berfoto bersama dan langsung turun dari puncak Semeru. Jalur turunan terasa jauh lebih mudah dan ringan karena kita tinggal meluncur dengan kaki seperti orang main ski (penulisannya bener gak ya). Namun jangan sampai kita lalai karena menurut informasi lebih banyak orang kecelakaan dan cedera ketika turunan, mereka melakukan langkah yang gegabah apakah dengan berlari lalu terguling dan menghantam batu sampai beberapa bagian tulangnya patah, atau bahkan jatuh ke jurang.

Sesampainya di Kalimati (camping ground terakhir) dan bergabung dengan semua member Backbone Adventure kami berkemas dan langsung turun ke bawah dan singgah di Ranu Kumbolo untuk bermalam satu malam lagi.

Ada cerita unik lain dari perjalaln turun (pulang) ini, di perjalanan dekat pos 1 saya dan kawan-kawan berpapasan dengan sekelompok orang yang saya merasa kenal dengan mereka walaupun saya yakin tidak perah berjumpa (lah gimana ceritanya), beberapa diantara mereka terlihat diiringi porter dan guide tapi ada 4 orang yang paling mencolok dan berbeda diantara mereka, kulitnya putih, bersih, tinggi, posturnya bagus pokonya kalau saya dan temen-temen yang baru turun dibandingin sama mereka jauh lah, pokoknya jauh hahaha.

Spontan lisan saya dkk mengucapkan “Al ?” dan al pun tersenyum, di iringi dengan Dul di belakangnya dan El paling belakang terlihat pula ada perempuan (katanya sih artis tapis saya mah kagak kenal, itu pun kenal Al, El dan Dul karena serasa mirip aja, mungkin kalau kita disatuin jadi Vic, Al, El dan Dul. Hmmm sepertinya cocok ni bisa juga ni di buat filem judulnya “saudara kembar yang terpisah” wahaha dilarang protes. Setelah kelompok saya berpapasan dengan Al, El, dan Dul, seketika hutan yang begitu hening terdengar suara histeris namun sedikit samar, dalam hati saya “mungkin mereka histeris dan kaget melihat saudara-saudara kembar saya Al, El dan Dul. Mereka mah gak tau kalau saya sudah mandi, Al, El, dan Dul mah lewat (lewat, lewat doang).

Akhirnya setelah Magrib kami sampai di titik awal pendakian, Desa terakhir sebelum mendaki Semeru yaitu Ranu Pani. Perjalan selesai dan momen ini gak akan pernah terlupakan selamanya. Makasih temen-temen Backbone Adventure, makasih temen-temen tim 3, ada Nuri (lk), Shiddiq, Fadlur, Teh Kur, Mbak Nita, Ufai, Tsabit, Nurul, dan Nusaibah, pokonya terbaiklah. Salam tulang punggung my back !  


Previous PostPosting Lama Beranda

3 komentar

  1. Pengen nih nyoba ke gunung semeru
    Tapi selalu aja sibuk padahal pengen refreshing :D

    BalasHapus
  2. nah, sejauh apapun perjalanan, seasyik apapun destinasinya, sekeren apapun tempat wisatanya, yang terpenting jangan melupakan Yang Maha Besar memberikan kesempatan untuk menikmati semua itu. Syalut di tengah perjalanan, mengutamakan ibadah, aku jadi miris, yang terkadang jalan-jalan masih yang melupakan ibadah. Padahal syukur itu perlu, biar bisa jalan-jalan lagi . . .

    BalasHapus